Rabu, 14 Mei 2008

Percakapan Gelas Kristal

Closer
Let me whisper in your ear
Say the words you long to hear

- Do You Want to Know A Secret by The Beatles -

Ketika baru saja Billy dipersilakan duduk, dia segera mengingat sebuah lagu yang pernah dibuatnya. Lagu itu bercerita tentang kegelisahan gelas yang merasa tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya menjaga anggur yang terisi di dalamnya tetap dingin dan segar hingga saat diteguk oleh pemesannya. Hal ini terjadi karena si pemesan sibuk bercerita dan bermesraan dengan kekasihnya hingga lupa untuk minum.

“Akhirnya bisa ketemu juga tempatnya?” Ayuni mengembalikan pikiran Billy yang melayang tadi. Kini Billy sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seseorang yang baru beberapa jam dikenalnya dari dunia maya.

“Ya. Sempat bingung tadi ketika mencari tempat ini. Makanya agak terlambat datang,“balasnya.

“Tidak mengapa. Ya sudah, kamu pesan saja dulu. Pasti sudah lapar, bukan?”

“Nanti saja. Aku sangat penasaran dengan beberapa pernyataanmu tadi malam. Baik yang kita bicarakan via chat, maupun pesan pendek yang kamu kirimkan.”

Ayuni tersenyum sebelum bicara.

“Baik. Mana dulu yang ingin kautanyakan?” Dia seperti hendak menantang kesabaran Billy akan maksud Ayuni.

“Ok. Yang terakhir saja dulu. Soal kabar baik. Kabar baik apakah yang kamu maksud?”

Lagi-lagi Ayuni tersenyum. Sebenarnya dia tidak menduga Billy yang dalam pikirannya adalah seorang yang misterius, pada kenyataannya lebih gampang untuk tertarik pada hal-hal yang menyenangkan seperti istilah “kabar baik” itu.

“Kabar baik yang saya maksud mungkin tidak sepenuhnya menjadi kabar baik buat Billy dan teman-teman di PlayForward. Akan tetapi saya merasa perlu menyampaikannya karena saya pikir ini sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.”

Ayuni berucap dengan nada yang datar dan terkesan dewasa. Bahkan pengucapan nama Billy serta penggunaan kata ganti “saya” membuat pertemuan antara Billy dan Ayuni seperti pertemuan bisnis yang bersifat formal. Billy masih enggan membuka mulut untuk menimpali. Dia menunggu hal apa lagi yang hendak terucap dari bibir Ayuni.

“Yang saya maksud adalah Mas Purnama Jaya Kesuma, seorang yang bisa dibilang cukup kompeten di bidang musik, yang kebetulan saya kenal, ingin mendengarkan demo album PlayForward. Bagaimana?”

Billy semakin merasa perempuan di hadapannya semakin asing bagi dia dengan pernyataan tambahannya itu. Akhirnya dia pun angkat bicara. Lebih tepatnya mempertanyakan dengan tegas apa maksud Ayuni dengan kalimatnya itu.

“Sebentar, Mbak. Aku merasa ada yang janggal. Bahkan sangat janggal. Pertama, atas dasar apa Anda berusaha mengajukan diri untuk memperkenalkan PlayForward kepada Mas Pur whatever itu. Sedangkan Anda sendiri belum mendengar apa dan bagaimana PlayForward itu! Soal memperjuangkan demo album ke label, kami sudah lama melakukannya. Meskipun belum tembus, tetapi sekarang kami sudah bisa memutar lagu-lagu kami di beberapa radio dan kami pun sudah mempunyai basic fans yang memadai untuk setidaknya menyokong perjuangan kami. Jadi sekali lagi, saya tidak mengerti atas apa yang Anda bicarakan itu.”

Niat baik belum tentu menjadi hal yang baik. Begitu yang ada dalam pikiran Ayuni melihat reaksi Billy yang sama sekali tidak bisa dia duga lantaran tadi sepertinya Billy justru tertarik dengan tawarannya itu.

“Begini, Billy. Sebaiknya yang Billy perlu pahami bahwa niat saya memperkenalkan PlayForward dengan Mas Purnama Jaya Kesuma itu baik adanya. Saya ingin, setelah saya membaca lirik yang menarik dan entah bagaimana saya juga merasa bahwa musik PlayForward itu pasti bagus, untuk ikut berjuang dengan Billy dan teman-teman menjadikan PlayForward sebagai band yang meramaikan pasar musik di Indonesia.”

Ayuni mengatakan hal itu dengan sorot mata yang teduh tetapi terasa tajam dalam pandangan Billy. Sehingga Billy merasa apa yang diucapkan Ayuni benar-benar berasal dari dalam hatinya. Jujur, tanpa ada keinginan yang terselubung.

“Apakah dengan kata lain, Anda ingin menjadi manager bagi band kami?”

Ayuni tertawa ringan. Melihat hal itu, Billy merasa telah mengajukan pertanyaan yang bodoh untuk orang yang terlihat begitu tulus seperti Ayuni.

“Haha. Saya tidak punya niat untuk menjadi manager sebuah group band. Yang ingin saya lakukan hanyalah membantu PlayForward untuk bisa mendapatkan label yang baik. Itu saja. Soal managerial dan lain-lainnya, sebaiknya memang segera Billy dan teman-teman bicarakan.“

“Lalu, apa keuntungan hal ini untuk Anda?”

“Billy. Ini ada kaitannya dengan tanda bahaya yang aku ceritakan dalam pembicaraan via chat kita. Kau masih ingat?”

“Ya. Tentu saja aku masih ingat, dan oleh karenanya aku juga tadi mempertanyakannya, bukan?”

Ayuni menghela nafas sebentar. Dia mengambil daftar menu, membacanya sekilas, lalu melambaikan tangan ke arah pelayan. Ketika pelayan yang dilambai itu datang, Ayuni melirik ke arah Billy dan bertanya,”Billy mau pesan minum dulu?”

Billy gelapan dengan pertanyaan itu, sebab dia dari tadi hanyut dalam memperhatikan perempuan yang ada di hadapannya. Terlalu banyak misteri yang menyelubunginya. Dari penampilannya, Ayuni terlihat sebagai seorang yang cerdas, minimal berpendidikan tinggi, dan hidup berkecukupan. Terihat dari cara dia berpakaian dan berdandan.

Mengapa sepertinya dia masih perlu mencari kegiatan yang mungkin bagi sebagian orang malah terlihat aneh dan sepele? Seperti memperjuangkan sebuah band agar menjadi besar. Hal ini sepele karena tidak banyak yang tahu betapa hal seperti ini memakan energi, biaya, juga waktu yang tidak sedikit. Hal itu tampaknya tidak sesuai dengan penampilan Ayuni yang terlihat mapan dan santai ini.

“Billy?”

“Ya? Ah. Aku pesan orange juice saja!”

Setelah menutup kembali lembar daftar menu, mengatakan pesanannya kepada pelayan tadi, Ayuni kembali menatap dengan pandangan yang berbinar ke arah Billy. Sepertinya ia sudah siap untuk melepaskan sesuatu yang sudah sekian lama disimpannya sendiri.

“Billy. Kamu tentu tahu bagaimana rasanya seseorang yang telah membuat sesuatu, lalu memberikan sesuatu itu kepada orang lain, dan orang lain itu senang. Pernah bukan mengalami hal seperti itu?”

“Ya. Seperti halnya aku menyelesaikan sekolahku di SMU beberapa waktu lalu. Ayah dan Ibuku bangga karena anaknya yang terkenal tukang bolos dan pemalas ini akhirnya lulus juga,” jawab Billy.

Senyum Ayuni kembali terkembang. Geliginya yang putih mengkilat semakin membuat senyumnya menawan. Dia melipat tangan dengan anggun di atas lututnya, sebelum kembali berbincang,”Yang saya rasakan adalah di mana saya merasa sudah tuntas melakukan sesuatu hal dan saya pun mendapatkan kegembiraan tersendiri dalam melakukan hal yang menyenangkan orang lain itu.”

Billy menggeleng tidak mengerti. Dalam benaknya dia berpikir; “lantas, apa yang menjadi masalah perempuan ini?”

“Billy pernah mendengar Nyi Ageng Ratu Pembayun?”

Pembayun. Billy merasa baru semalam mendengar nama itu. Itu nama yang disebut sendiri oleh Ayuni.

“Bukankah semalam Anda mengatakan nama Anda adalah Pembayun?”

Ada pias merah jambu di pipi Ayuni. Senyumnya terpaksa ditahan, dan dia melengoskan muka ke arah jendela. Dari kaca jendela terlihat cuaca di luar begitu teriknya. Larik-larik cahaya putih matahari memanjangkan bayang-bayang pengunjung café ini hingga dinding di seberang.

“Saya suka sekali dengan legenda itu. Pramoedya pernah menuliskan dengan beberapa hal yang berbeda. Salah satunya adalah memanusiakan tokoh bernama Baruklinting. Dalam cerita rakyat Yogya-Solo, Baruklinting dikenal sebagai senjata sakti yang berasal dari lidah seekor naga. Tapi tokoh sentral dari cerita itu adalah Pembayun itu sendiri. Seorang perempuan yang beruntung! Seperti diriku.”

Agaknya Ayuni masih hendak berpanjang cerita, tetapi kedatangan pelayan café yang membawa dua gelas minuman membuatnya harus menghentikan ceritanya.

Billy yang sadar akan hal itu buru-buru mengucapkan terimakasih kepada pelayan café itu agar cepat berlalu dari hadapan mereka berdua.

“Lalu?”

Ayuni mengangkat gelas, dan meminum isinya melalui sedotan panjang yang dihiasi payung kecil warna merah. Setelah meletakkan kembali gelasnya, dia melihat ke arah jam tangannya.

“Maaf, Billy. Aku terlalu percaya diri. Aku sudah mengatur janji dengan Mas Pur agar jam 7 malam ini PlayForward bisa datang untuk memperlihatkan kemampuan di depan dia. Bagaimana?”

“Terlalu cepat, Mbak. Ini terlalu cepat!” Keluh Billy. Dia sama sekali tidak menyangka Ayuni bertindak begitu tangkas mempersiapkan jalan untuk PlayForward.

“Billy bisa hubungi teman-teman? Kita bertemu di studio Mas Pur di Jalan Rasamala. Sudah tahu bukan? Soalnya tempat itu biasa untuk kumpul-kumpul para musisi.” Ayuni sedikit membujuk.

“Aku coba hubungi teman-teman. Tetapi aku tidak berjanji bahwa kami bisa datang. Soalnya waktunya terlalu mepet.” Sekali lagi Billy mengeluh.

“Baiklah Billy. Saya terpaksa juga meninggalkanmu. Saya sudah ada janji dengan dokter kandungan saya.” Ayuni mengangkat tas miliknya dari kursi di sebelah dia duduk, lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah Billy. Sementara Billy masih terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya di siang yang terik ini.

“Bagaimana dengan ceritamu tadi, Mbak?”

Ayuni menghela nafas panjang.

“Maafkan bila saya membuat penasaran Billy. Tetapi sekarang yang menjadi fokus kita berdua adalah temu janji PlayForward dengan Mas Pur nanti malam. Jika itu selesai, masih ada satu tugas lagi yang perlu saya lakukan terhadapmu, Billy. Sebelum saya menceritakan cerita tentang diri saya sendiri. OK?”

Ya. Ya. Ya. Whatever.

Sebenarnya Billy ingin mengatakan hal itu. Tetapi melihat ketulusan niat Ayuni membantu PlayForward, maka yang keluar dari mulutnya hanyalah dua huruf yang juga diucapkan Ayuni ketika bertanya kepadanya : OK.

Langit Lengang Lapang

I'm gonna lay my head
On that lonesome railroad line
And let the 2:19 ease my troubled mind

- Troubled in Mind by Janis Joplin -

Seorang karyawan internet café memberi isyarat kepada Billy bahwa sebentar lagi – entah berapa lama lagi tepatnya – café itu akan ditutup, dengan menunjukkan jari tangan kanan ke arah pergelangan tangan kirinya.

“Ha? Oh. Ya. Ya. Sebentar lagi. Saya hanya ingin menyimpan satu file ke dalam flash disc saya,” tukasnya sebagai balasan. Dijawab demikian, si pemberi kode waktu itu manggut-manggut sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Billy mencoba merekam “temuan” terakhir yang ia baca dari hasil browsing tadi. Janis Joplin pernah menulis sebuah lagu tentang kekalutan pikiran. Dan dalam lagu Troubled in Mind itu, dia menyatakan dengan segala kelegaan akan dipasrahkan kekalutan itu pada kereta api yang melaju pada pukul 2 lebih sekian menit. Dia mengerutkan dahi. “Kereta yang melaju pada pukul dua atau julukan kereta di lajur rel ke dua ya?” Ada keraguan dalam pikirannya sendiri mencermati lirik lagu Janis Joplin itu.

“Metafora. Mungkin memang sebuah metafora belaka. Tetapi intinya hampir sama dengan apa yang aku pikirkan. Kekalutan bukan jawaban dari sekian hari pencarian ini. Kekalutan bisa menjadi hal yang bisa dicetuskan.” Lagi, dia bergumam sendiri.

Sambil mematikan PC, dia tersenyum. Dia teringat pada Norman Rockwell yang menggambar dirinya sendiri ketika menghadapi “garis-mati” ilustrasi majalah. Mirip dengan Joplin yang menuliskan kekalutan, Rockwell melukis dirinya yang sedang panik mempersiapkan lukisan. Hasilnya sangat mencengangkan. Lukisan Rockwell terlihat sangat natural dan manusiawi, sebab selama ini dia selalu menggambarkan hal-hal yang normatif seperti kebebasan berbicara, kebebasan menjalankan ibadah, dan kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, dan lain-lain yang termasuk dalam 5 macam kebebasan bagi warganegara yang didengungkan pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu. Dengan lukisan “kecelakaan itu” orang menjadi maklum bahwa Rockwell pada dasarnya juga mengalami ketakutan, meskipun hanya sekedar takut gagal membuat karya yang menarik.

Seperti mendapatkan pegangan pintu yang mana pintu itu sendiri nyaris terlupakan, Bily merasakan ada harapan baru akan sesuatu yang lain. Walaupun dia masih merasa hal itu belum tentu menjanjikan apa-apa. Setidaknya, dia merasa beroleh satu alternatif perasaan yang hendak diungkapkan menjadi sebuah lagu. Perasaan kalut yang timbul ketika dia menghadapi ketakutan akan kegagalan berkarya. Itu baru satu alternatif! Dia masih harus mencari lagi. Perasaan-perasaan lain yang berada di antara ketakutan dan kebahagiaan. Perasaan antara!

“Ehm!

Sekali lagi karyawan café itu memberi tanda. Kali ini tanda dengan suara yang jelas sekali bermaksud untuk mengusirnya. Jarum panjang jam sudah mengarah kepada angka 11. Sementara jarum pendeknya sudah dari tadi tegak lurus ke atas. Hampir jam 12 malam!

“Ya.Ya.Ya.”

Dia bersuara seadanya menanggapinya. Rasanya belum juga ada lima menit dia melamunkan perasaan, isyarat kedua untuk segera mengakhiri aktivitas internet itu sudah terdengar lagi.

Sambil meninggikan kerah jaketnya, dia menghampiri kasir dan membayar biaya penggunaan PC, koneksi internet, dan dua botol air mineral yang ia minum. Sebagai vocalist dia harus menjaga kesehatan tenggorokannya dengan tidak merokok dan banyak minum air putih. Dia patuh sekali dengan anjuran guru vocalnya itu. Dia melongok keluar pintu setelah mengeluarkan uang dari dompetnya. Cuaca luar yang hujan menurut beberapa pengguna dan karyawan internet café beberapa waktu lalu sudah berhenti rupanya.

Dia berharap dalam perjalanan pulangnya, bisa dilihatnya bintang atau bulan. Sudah lama dia tidak melakukan kebiasaan yang satu itu. Memandangi langit yang penuh bintang. Kebiasaan itu muncul sejak dia membaca sebuah sajak berjudul “Dongeng Tukang Jahit Selimut” karya Hasan Aspahani. Dua baris pada sajak itu mengingatkan dirinya pada kesepian seorang lelaki.

Lelaki itu hidup sendiri. Hanya sendiri.
Terlebih sendiri bila alam sudah berselimut malam.

Tak lama dari transaksi pembayaran, ujung sepatunya sudah menyembul di trotoar. Dia memilih untuk berjalan sebentar. Menikmati malam yang semakin tua, menikmati udara dingin sisa-sisa hujan yang reda, menikmati jalanan renta yang tetirah dari padatnya lalu lintas kota. Dia ingin menjadi saksi pada satu saat jeda.

Aha! Sekarang muncul satu ide lagi selain perasaan antara tadi. Bahwa ternyata ada juga suasana antara! Suasana yang tercipta setelah sesuatu hal terjadi dan sebelum hal lain terjadi. Entah kenapa tiba-tiba otaknya mampu mencerna suasana ganjil seperti ini? Sesaat kemudian setelah cetusan itu, Billy seperti tak lagi ambil peduli pada pertempuran pernyataan dan pertanyaan pada otak yang jalinan sinaps-nya terus bekerja itu. Dari mulutnya terdengar reffrain lagu Troubled in Mind.

+++

Bip! Bip!

Telepon genggamnya berbunyi dan bergetar sebentar. Sebuah pesan pendek diterima. Dengan gerak yang ragu, tangan Billy merogoh kantung celana dan mengeluarkan telepon genggam itu. Icon amplop dengan tulisan 1 message received terpampang pada layar telepon genggamnya.

“Paling anak-anak!” Dengusnya saat ibu jarinya bergerak dari tombol © di tengah dan turun ke tombol * pada bagian paling kiri bagian bawah telepon genggam itu.

Ada kabar baik. Besok kita bisa ketemu?

Pesan itu berasal dari sebuah nomor yang tidak pernah dikenalnya. Dia sedikit berpikir keras tentang siapa yang mengirimkan pesan itu sebelum dia berpendapat bahwa si pengirim adalah teman chatnya beberapa waktu lalu. Ayuni!

Lalu dengan sedikit bergegas, segera diketiknya pesan pendek balasan:

Ok. Aku tunggu konfirmasi lanjut. jam brp & dmn?

Dengan rasa penasaran Billy membiarkan telepon genggam itu sementara lebih lama dalam genggam tangannya. Siapa tahu sebentar lagi Ayuni akan membalas pertanyaannya. Kira-kira satu menit berlalu, Billy memasukkan kembali telepon genggam itu ke dalam kantung celananya. Dan dia melanjutkan perjalanan malamnya.

Sesekali Billy mendongakkan kepala ke arah langit. Langit sehabis hujan biasanya membiarkan gemintang bercahaya. Tetapi entah kenapa, malam ini masih belum ada satu bintang pun hadir. Dia kemudian membayangkan dirinya begitu kesepian di luar angkasa. Seperti Mayor Penerbang Tom dalam lagu David Bowie yang pernah dinyanyikan ulang oleh Saigon Kick itu.

Mayor Penerbang Tom yang terlunta-lunta dalam kapsul penelitian ruang angkasa yang dikutuknya sebagai kaleng terbang! Billy bergidik sendiri. Membayangkan kesepian dan kehampaan tiada tara bahkan mungkin menjelang kehabisan udara, lalu terlempar dari kapsul roket itu, lalu meledak berkeping-keping di ruang hampa udara yang dingin, kosong, lengang. Tanpa sesiapa yang pernah bisa diajak bicara.

“Mungkin yang kubutuhkan saat ini adalah halusinasi.” Lagi Billy bergumam sendiri. Malam sepi begini memang meliarkan imaji seseorang. Apalagi seseorang yang berada dalam kekalutan pikiran.

“Tapi halusinasi yang seperti apa? Apakah kini aku mengharap bertemu seorang tua yang mengaku sedang dalam perjalanan untuk mengalahkan seekor naga seperti Don Quixote itu? Agar dia bisa menginspirasikan kegilaan atau bahkan semangat paling membara sebagai satria?”

Dia ingat betul ada beberapa sajak di sebuah surat kabar minggu yang mengemukakan beberapa hal tentang satria tua itu. Lalu beberapa bulan setelahnya, pada surat kabar yang lain dimuat wawancara dengan seorang penyair yang lagi-lagi menyinggung peranan Don Quixote itu. Dalam ingatannya, beberapa tokoh dalam karya sastra memang mempengaruhi seorang pencipta lagu. Karya Tolkien dijadikan bahan lagu oleh Led Zepelin, misalnya. Kemudian Sting menuliskan perumpamaan yang diambil dari legenda Yunani, Odiseus. Sekarang muncul ide ke tiga untuk bahan pembuatan lagu jagoannya; mencari bagian yang menarik dari sebuah karya sastra!

Maka seketika sampai di sebuah halte, dia berpikir untuk segera pulang dan membuka-buka beberapa buku yang dimiliki. Tak lama dia telah mengacungkan jari pada sebuah taksi yang berhenti menunggu penumpang, membuka pintu secepat dia kemudian menutupnya, dan meringkukkan diri di kursi belakang. Sebelum akhirnya dia tersadar belum memberitahukan kepada pengemudinya arah yang dikehendaki.

“Bangka, Pak!” Serunya.

Dia menengok ke arah kiri dan kanan, mengamati interior taksi yang ditumpanginya. Aksi itu membuat pengemudi taksi menjadi jengah.

“Ada apa, Mas? Ada yang tertinggal?”

Sang Pengemudi langsung menyergapnya dengan sebuah pertanyaan.

“Tidak. Saya hanya merasa kesepian. Ada radionya, Pak?”

“Ada. Mau disetel?”

“Boleh, Pak. Daripada sepi!”

Tak lama kemudian, mengalunlah lagu nostalgia Indonesia lama dari radio dalam taksi itu. Mendengar itu, Billy tersenyum kecut.

Kami (tak) Terlalu Muda untuk Mengenali Dunia

Where does the answer lie?
Living from day to day
If it's something we can't buy
There must be another way

--Spirits in the Material World by The Police --


“Tidak diangkat?”

“Seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Dia tidak mau mengangkat telepon dari kita,” keluh Bimo pada Teguh yang bertanya.

Di telapak tangan Bimo masih berpendar lampu LED telepon genggam yang menandakan belum lama dia berusaha menelepon seseorang.

“Kita tidak bisa diam saja, Bim. Kita harus membantu Billy untuk segera menemukan lagu jagoan kita. Aku punya satu syair, belum lengkap sih, tapi rasanya asyik kalau kita mainkan,” Teguh langsung saja mengemukakan pendapatnya tanpa diminta.

“Guh, kamu seperti tidak pernah kenal Billy. Dia itu orangnya keras kepala. Kalau dia bilang dia yang bikin lagu, ya dia akan bikin lagu untuk kita.”

“Tapi ini sudah empat hari, Man!” Suara Teguh meninggi, lalu,”Dia masih belum ada kabar. Lagipula aku yakin lirik yang aku punya tak kalah bagus dari punya dia nanti!”

Teguh menyodorkan selembar kertas berpartitur kepada Bimo. Bimo dengan rasa enggan menerima lalu mencoba mencermati apa yang tertulis di atas kertas itu.

Ketika Pintu Tertutup


Ketika debam pintu kaudengar,
ada perih yang tiba-tiba menjalar,
lalu pandangan mulai nanar,
di depan, jalan semakin samar.

Antara bimbang dan harapan,
di antara segala kenangan,
sepatumu terus berjalan,
melintasi tepian halaman.

Ketika pintu telah tertutup,
masihkah mungkin kudengar meski sayup,
tawa juga tangis, di antara degup
jantung kita yang bicara cinta?

“Jelek, Man!” Bimo berkomentar pendek dengan tatapan yang tajam ke arah Teguh yang sejak tadi berharap hal yang sangat bertolak belakang dari komentarnya itu.

“Maksudmu?” Teguh membelalakkan mata seakan tak percaya sahabatnya merendahkan syair lagu yang susah payah dibuatnya.

Bimo memutar-mutar stik drumnya, lalu mengetuk-ngetukkannya di paha sementara mulutnya bergumam irama lagu “Barangkali Bila” sebelum membuka mulut dan kembali berkata,”Jelek ya jelek. Terlalu melankolis. Cengeng. Dangkal. Apalagi?”

Kelopak mata Teguh rasanya semakin melebar mendengar komentar jelek bertubi-tubi keluar dari mulut Bimo. Dia merasa apa yang dilakukannya sia-sia. Bahkan dilecehkan. Bimo adalah anggota termuda dari PlayForward. Dia baru lulus SMU kemarin. Tapi memang terkenal paling gila dalam hal bacaan. Segala teori Psikologi Sigmund Freud hingga teori Post Modern-nya Derrida telah habis dibaca. Lucunya dia suka mengatakan kehancuran Genesis bukan lantaran sibuknya masing-masing anggota tetapi lebih kepada persoalan gonta-ganti personil yang membuat arah musik Genesis menjadi kabur. Dari mulanya berada dalam lingkaran Progresif Rock menjadi Pop! Itulah awal dari kehancuran Genesis sesungguhnya, demikian pendapat Bimo soal Phil Colins dan teman-temannya. Maka tidak heran jika Bimo lebih mengidolakan drummer Rush, Neil Peart, dibandingkan drummer mana pun di seluruh dunia.

“Bim,” sapa Teguh melemah,”aku tahu kamu lebih menyukai lirik-lirik yang kelam. Tapi aku rasa lirik lagu ini juga sudah kelam, bukan?”

“Bukan begitu, Man! Jangan sakit hati. Kenapa aku bilang lirikmu itu dangkal, karena emosinya masih mengambang. Pintu di sana belum kau gali dengan baik. Ketika pintu ditutup seharusnya menimbulkan gema dalam relung hati pendengarnya. Hal ini bisa membangkitkan intuisi Bondan, Hari, aku untuk menciptakan bebunyian yang terkesan kosong dan dalam untuk musiknya. Seperti bunyi bende yang menyudahi pertempuran. Seperti bunyi titik air jatuh dalam lubang perigi. Begitu seharusnya efek dari kata debam pintu yang tertutup itu. Kalau mengambil ironi dari kata itu, debam pintu yang tertutup itu membuka sebuah ruang yang dalam dan hening. Nir suara. Kosong! Ngelanut!”

Didera pernyataan yang panjang lebar hanya untuk sepatah kata “debam pintu yang tertutup” membuat Teguh tidak berani lagi mengungkit kebaikan yang ingin dia sampaikan dalam syair lagu miliknya. Dia memilih duduk seperti kucing yang kecewa dengan langkah kaki sang pemilik yang ternyata tidak membawa makanan untuknya.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Bim?” Teguh bertanya sekali lagi, tetapi kali ini dengan nada kepasrahan yang teramat jelas.

“Nothing. Just waiting.” Di bibir Bimo terulas senyum. Meskipun bukan sebuah senyum kemenangan atas debat dengan Teguh.

“Waiting for Godot?” Seringai Teguh.

“No, Man. Waiting for Billy!” Bimo meraih minuman kaleng di hadapannya dan mereguk isinya.

+++

Suasana PintPoint, tempat bilyar favorit anak-anak PlayForward, semakin ramai. Suara bola yang bergeletar pada karpet hijau lalu memantul di tepian meja teramat sering terdengar di antara derai tawa dan denting gelas serta botol.

“Ndan, sudah dapat kabar dari Billy belum?”

“Belum ada, Guh. Paling-paling anak itu sedang nangkring di atap rumah kosong memandang bintang di langit! Seperti tidak pernah tahu kebiasaannya saja kalau lagi cari inspirasi,” sahut Bondan sambil menggosok ujung tongkat bilyar dengan kapur, lalu bersiap-siap untuk memukul bola kembali.

Setelah memukul bola dan tidak ada satu bola pun yang masuk ke dalam lubang, Bondan mengambil minuman kaleng dan memulai pembicaraan dengan Teguh.

“Kamu sepertinya cukup senewen dengan teman kita satu itu, Guh? Ada apa sebenarnya?” Bondan sepertinya mengendus kekuatiran Teguh akan janji Billy untuk menyelesaikan satu lagu itu.

Yang ditanya agak gelapan mencari jawaban. Dia teringat peristiwa barusan di markas PlayForward dengan Bimo sebelum mereka bergabung dengan Bondan dan Hari di PintPoint sekarang ini.

“Tidak, Ndan. Aku cuma merasa Billy perlu kita bantu untuk menyelesaikan tugas ini. Aku tadi sudah berusaha membuat satu lagu, tapi Bimo bilang syairnya jelek dan dangkal,” Teguh lantas menghela nafas panjang setelah mengungkapkan isi hatinya.

“Tenang saja lah, Guh. Billy, teman kita itu, punya tekad yang kuat jika berurusan dengan lagu. Meskipun dia bukanlah pencipta lirik dan lagu yang jago, tetapi selama ini apa yang dia buat sangat baik buat kita-kita. Bukan begitu?”

“Ya. Ya. Aku tahu, Ndan. Aku cuma berusaha membantu. Siapa tahu berguna,” ujar Teguh lemas setelah pendapatnya ditolak oleh dua orang temannya dalam satu hari itu.

“Soal lirik lagumu itu, bagaimana kalau kita jadikan lagu? Mudah-mudahan bisa jadi lagu yang bagus.” Hibur Bondan.

“Yang benar saja, Ndan. Apa kata Bimo nanti?”

“Kita ubah dikit-dikit syairnya. Biar tidak cengeng begitu!” Bondan merangkul bahu Teguh sambil tertawa-tawa. Sementara yang dirangkul semakin bengong, dan karena omongan Bondan itu semakin menguatkan pendapat Bimo soal jeleknya syair yang dia buat. Dia melirik ke sekeliling. Di sisi meja yang lain dilihatnya Hari dan Bimo sedang berbincang serius. Dan dia sudah bisa menduga perbincangan keduanya pasti tentang hal-hal yang berbau filosofis mengingat Hari dan Bimo paling doyan mengupas segala hal dari sisi yang paling dalam. Dia mengacungkan botol yang isinya tinggal setengah ke arah mereka, setelah dilihatnya Hari melirik ke arahnya. Hari melambaikan tangan. Memanggilnya.

“Guh. Kamu ingat permainan riff gitar John Squire di lagu Waterfall?”

“Ya. Dia konon terinspirasi lagu Rain-nya The Beatles. Dan permainan riff itu berhasil untuk menimbulkan efek segar seperti sebuah hari Minggu yang cerah,” papar Teguh pada Hari.

“Tepat sekali! Itu yang dari tadi aku coba jelaskan kepada kawan kita, Bimo, bahwa setiap nada bisa menimbulkan getar yang berbeda bagi pendengarnya.”

Bimo yang diserang begitu tidak mau tinggal diam.

Hei, Man. Aku paham soal itu. Yang aku maksud, sekarang ini rasanya membangun imaji pendengar dalam bebunyian musik kurang banyak disentuh. Kebanyakan musisi lebih memilih lirik yang berusaha merangkul emosi pendengar.”

“Mainstream-nya mungkin sedang ke arah sana, Man!” Teguh terlihat ingin “terlibat” dalam diskusi itu.

“Psychedelic is over, Brother. Sekarang musik dalam lagu diciptakan untuk lebih membangun harmonisasi suasana. Agar sinkron antara isi lirik dengan suasana musiknya.”

“Pendapat yang aneh,” sahut Bimo mendengar ocehan Hari, ”Bebunyian tidak ada hubungan langsung dengan era Psychedelic. Sejak jaman orkestra klasik juga begitu. Musik adalah harmoni. Padu padan bunyi agar mendapat efek emosi pendengar. Musisi-musisi era psychedelic hanya menguatkan bahwa bunyi tertentu membuat efek emosi tertentu. Ditunjang dengan lirik yang butuh kontemplasi agar bisa merasakan apa sesungguhnya yang dirasakan oleh pencipta lagu itu,” tukas Bimo.

Jika sudah berargumen seperti ini, Bimo menjadi satu-satunya orang yang selalu ingin menang.

“Ok, Bro. Sekarang yang ingin kita bangun sebenarnya musik yang seperti apa?” Hari mulai mengendur.

“Bukan musik yang sulit, bukan?” Teguh pun mulai bosan dengan argumentasi yang cenderung debat kusir itu.

“Simpel, Bro. Simpel. Musik yang seperti kita telah buat selama ini. PlayForward! Musik yang membawa pendengar musik kita pada pengalaman hidup mereka sendiri.”

“Maksudmu?” Hari dan Teguh geleng-geleng kepala.

Permainan gitar Teguh yang mirip-mirip rintihan seseorang yang ditinggal kekasih. Suara-suara yang kau ciptakan lewat permainan keyboard-mu Hari kadang seperti membentuk ruangan-ruangan yang bisa kita lewati; trotoar, pintu pagar, selasar rumah sakit, lorong-lorong kelas, dan lain-lain. Lalu permainan drum-ku adalah ketukan sepatu, denyut nadi dan degup jantung, juga teriakan gembira mereka yang mendengarkan. Dan lirik lagu yang Billy ciptakan adalah perasaan yang mungkin tak terperhatikan dalam kehidupan mereka. That’s what we are! PlayForward!”

“Kenapa kau diciptakan terlalu filosofis, Man?” Hari mengakhiri perbincangan dengan meneguk minuman kalengnya. Sementara Teguh menuntaskan isi botol yang dari tadi tinggal setengah.

Bimo, melihat keduanya dengan seulas senyum yang belum kuncup dari bibirnya. Dan masih bukan sebuah senyum keme-nangan dari argumentasi sederhana malam itu.

Dari speaker ruangan, menghentak suara cabikan Gordon Summer meningkahi permainan drum Stewart Copeland yang mirip-mirip beat reggae.

There is no political solution
To our troubled evolution
Have no faith in constitution
There is no bloody revolution

Di Luar Gerimis, Kita Bersatu Dalam Tangis

We're just two lost souls
Swimming in a fish bowl,
Year after year,
Running over the same old ground.
What have we found?

-- Wish You Were Here by Pink Floyd --

“Capek, Mas?”
Yang disapa hanya menggangguk. Menghampir yang menyapa dan melingkarkan lengan pada pundak lembut itu. Sejenak muka mereka berhadapan dan bibir mereka pun berkecupan.

“Tumben kamu chatting. Sama siapa?”
“Entahlah. Dia menyebut namanya “billy”. Dan bilang dia lulus sma tetapi tidak melanjutkan kuliah untuk mengurus bandnya.”
“Kamu mau membantunya?”

Yang ditanya hanya memamerkan senyum lengkap dengan lesung pipitnya. Lalu ditunjukkannya jendela chat yang masih menyimpan percakapannya dengan seseorang bernama “billy.”

“Coba Mas baca syair lagu yang dia buat. Aku suka. Jujur dan menyentuh. Jarang ada band yang bisa membuat syair seindah ini tapi sederhana.”
“Hm. Ini syairnya? Ya. Nampaknya cukup simpel dan elegan. Tidak ada perasaan yang mendayu-dayu, mengharu biru tapi rasanya cukup kena di hati.”
“Bagus bukan?” Ayuni kembali bertanya.

Iwan Purbaya, suaminya, tersenyum. Dia tahu istrinya memang tidak betah berdiam diri pada hal-hal yang berhubungan dengan seni. Dulu, Iwan mengenal Ayuni dari sebuah pertunjukan Sendratari Pendet–Gambyong, gabungan tari Jawa dan Bali. Ayuni memerankan anak Calon Arang : Ratna Manggali. Dan Iwan seperti halnya Bahula, tokoh anak Mpu Barada, pun akhirnya jatuh hati.

Hanya saja, selama hampir dua tahun pernikahan mereka, Iwan belum pernah sekali pun diajak untuk pulang ke kampung halaman Ayuni untuk bertemu ayah dan ibunya. Sewaktu melamar, Ayuni minta dilamar di sebuah rumah di bilangan Kemang. Katanya itu rumah Neneknya. Di sana memang lengkap hadir semua sesepuh dan kerabat keluarga besar Ayuni. Tapi dalam hati seorang Iwan Purbaya ada yang masih berupa tanda tanya; Di mana dan bagaimana Ayuni menghabiskan masa kecilnya?

Menurut pakar psikologi yang pernah dijumpainya, pengalaman masa kecil akan selalu membekas dan berpengaruh dalam pemikiran juga kedewasaan seseorang. Dan bukan berarti Ayuni tidak dewasa dan tidak bijak berpikir selama Iwan ketahui, tetapi Iwan hanya ingin memiliki Ayuni secara lebih utuh. Termasuk dengan bayang-bayang masa kelam masa lalunya, jika ada. Yang Iwan ketahui sampai hari ini, Ayuni adalah gadis yang masih seperti seorang penari. Selalu menampakkan keceriaan di atas panggung kehidupan. Sekali pun belum pernah terlihat ia menerawang sekedar menggali sebuah kenangan atau menemukan kembali jalan-jalan yang pernah menghilang.

Bagi Iwan, hal seperti itu sangat tidak betul. Dia ingin tahu sedetil-detilnya seperti apa Ayuni, istrinya itu. Maka ketika malam ini dia melihat Ayuni begitu antusias dengan sebuah syair lagu yang puitis, dia pun merasakan seperti menyentuh ujung pegangan pintu yang sekian lama tersembunyi. Ada harapan untuk membukanya!

“Ya. Seperti aku bilang tadi syair lagu ini simple dan elegan. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, istriku. Apakah kau berniat membantu anak ini dan band-nya?”

Ayuni tertawa. Seperti anak yang menemukan mainannya kembali.

“Ini kesempatan, Mas! Aku sudah lama menganggur di rumah. Aku ingin punya kegiatan. Aku mau membantu PlayForward.”
“PlayForward? Nama band itu? Mengingatkan aku pada sebuah film lama. Pay It Forward. Kamu ingat tidak?”
“Ingat. Film tentang membayar kebajikan kepada orang lain.”
“Film yang bagus. Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu hendak membantu mereka. Tapi apakah betul-betul sudah kamu pikirkan, Sayang?”

Sambil berkata “Sayang” Iwan Purbaya mengacak mesra rambut istrinya. Ayuni menghindar dan meraih telepon genggamnya.

“Aku bisa hubungi Mas Pur untuk menguji permainan mereka. Mas tahu bukan Mas Pur punya banyak referensi untuk band berbakat.” Yang dibilang Mas Pur masih termasuk kerabat dekat Ayuni. Dia mempunyai studio dan kursus musik di berbagai kota. Raden Mas Purnama Jaya Kesuma tepatnya adalah lulusan sebuah institut musik di Wina, Austria. Dia menjadi terkenal karena pernah sukses menyelenggarakan sebuah konser musik di untuk Istana Kepresidenan.

”Baiklah jika itu maumu. Tapi aku kok curiga kamu tiba-tiba merasa perlu membantu mereka. Ada apa?”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Seperti yang aku perlihatkan kepada Mas tadi, aku tertarik dengan syair lagu mereka yang sederhana. Itu saja. Dan itu berbeda!”

Ya. Ayuni memang gadis yang berbeda di mata Iwan. Entah kenapa pertemuannya dengan Ayuni seperti sudah diatur. Entah oleh siapa. Sebuah undangan pertunjukkan tari tiba-tiba diantar ke ruangannya dengan catatan dari Yusuf Purbaya, ayahnya: “Harap di hadiri.” Dan dia menyangka pada acara tersebut akan ada kolega atau rekanan bisnis ayahnya. Nyatanya? Tidak seorang pun dari mereka.

Tetapi untungnya, dia bertemu dengan Ayuni. Dan berkat keterkenalannya, dia bisa berkenalan langsung dengan penari paling cantik dan paling menarik yang pernah dilihatnya.

“Aku mandi dulu ya?”
“Baiklah. Aku siapkan makan malamnya.” Ayuni segera bangkit dan pergi ke arah dapur.

Dari jendela di dapur, Ayuni melihat langit Jakarta yang gelap. Hujan sering datang meskipun seharusnya sekarang sudah memasuki musim kemarau. Pengaruh pemanasan global, kata orang-orang. Hal yang konon dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil yang berlebih, membuat lapisan ozon di atmosfir menipis, membuat lautan menjadi semakin asam, dan melelehkan dua per tiga lapisan es di kutub utara. Dan pada akhirnya menimbulkan banyak perubahan cuaca dengan memunculkan beragam badai di seluruh dunia.

Dan awan gelap itu akhirnya pecah menjadi gerimis. Jarum-jarum air yang halus menabrak kaca jendela dapur.

“Hujan angin.” Desis Ayuni pelan.

Tangannya masih sibuk menata piring, sendok, garpu, dan gelas di atas meja makan di sela-sela memanaskan sayur sop kegemaran suaminya. Sebagai istri yang baik, dia berharap setelah suapan pertama Iwan akan memuji kenikmatan dan kehangatan sup ayam yang dia sajikan. Lamunannya terganggu dengan bunyi kaca jendela yang makin meratap dihujami ratusan jarum air, juga desis yang keluar sela-sela tutup panci.

Tak lama kemudian, Iwan sudah muncul dengan kaos oblong produksi www.barkingbuddy.blogspot.com, sebuah “perusahaan” kaos yang mengutamakan tulisan yang aneh-aneh dibandingkan desain kaos. Seperti tulisan pada kaos yang Iwan pakai sekarang : Don’t say I’m Fine – ‘coz I’m in Pain.

“Masak apa?” Iwan menyapa dengan sumringah. Dikibas-kibaskannya lengan yang masih terasa basah oleh air sehabis mandi.
“Biasa. Sup ayam,” dia berusaha tersenyum.
“Wah. Makin lapar aku!” Jerit Iwan kegirangan.
Sambil menyorongkan piring berisi nasi, Ayuni mencibir manja.
“Biasanya juga tidak komentar kalau mau makan malam.”
Iwan tertawa lalu berkata,”Boleh dong, sekali-kali memuji masakan istri.”

Ayuni tidak menjawab. Dia mengulurkan semangkuk sup di hadapan Iwan yang sekarang sudah duduk dengan tenang di meja makan. Sejurus dilihatnya Iwan melipat tangan dan memejamkan mata. Berdoa sebelum makan. Ayuni melangkah ke sebuah televisi berukuran kecil berbentuk agak membulat di bagian sisi-sisinya dan berwarna merah menyala yang terletak di dekat dapur bersihnya.

Sebentar saja terpampang adegan lenggak lenggok seorang model berkulit hitam bernama Saliesha, sesuai dengan tulisan di banner template grafis di bagian bawah layar, sedang menjalani sesi pemotretan dalam acara “The American Next Top Model” dari Channel V.

Iwan melirik pada Ayuni yang mulai terpaku pada acara tersebut, lantas berkomentar untuk meledeknya,”Ingin juga jadi model?”
“Haha. Tidaklah, Mas,” Ayuni tertawa. Matanya menyipit. “Lagi pula, agency mana yang tertarik dengan seorang ibu berbadan dua? Ada-ada saja.”
“Jangan salah. Banyak kok diperlukan model baju hamil,” tukas Iwan. Namun Ayuni sedang tidak ingin melanjutkan diskusi ringan itu. Dia lebih memilih memindahkan kanal televisi. Sebentar saja, meja makan itu menjadi semakin meriah dengan suara Roger Waters dari video klip lama Pink Floyd : Wish You Were Here.

So, so you think you can tell
Heaven from Hell,
blue skies from pain.

Can you tell a green field
from a cold steel rail?
A smile from a veil?

Do you think you can tell?

Seakan terbius, mereka berdua tenggelam dalam kebisuan percakapan. Di antara suara hujan di luar yang semakin deras, permainan gitar David Gilmour yang sangat bluesy, denting sendok di piring Iwan, dan gumam bibir Ayuni yang mencoba mengikuti irama lagu itu terbangkitkan ruang kosong yang seakan perlahan-lahan mengurung kehidupan rumah tangga mereka. Iwan mendengus seperti merasakan kehadiran sang kesepian. Dan demi mendengar dengus dari hidung Iwan, Ayuni melemparkan senyum yang teramat sulit untuk diartikan.

Semacam Lagu Cinta, Semacam Tanda Bencana

Because I'm happy to be sad
I want it all I want it bad

-- Torture Me by Red Hot Chili Peppers --


Malam, kadang menjadi keran pelepasan atas kesumpekan yang dirasakannya. Ini malam ke-empat semenjak pertemuan terakhir di studio Reff dengan teman-temannya, dan Billy belum punya bahan apa pun untuk menulis lagu yang dijanjikannya.

“Cari inspirasi. Cari inspirasi,” mulutnya komat-kamit. Beberapa penumpang di dalam metromini tampak terusik dengan gumaman yang (menurut si penggumam itu lirih – tetapi nyatanya) cukup jelas di telinga mereka. Billy hanya bisa memamerkan sederetan gigi depan yang bersih tanpa suara apabila matanya bertumbuk pandangan dengan beberapa orang yang memperhatikannya.

“Jangan gila, dong!” Bisik seorang gadis manis sambil tertawa-tawa dengan teman sebangkunya. Seorang gadis juga. Dari kucelnya seragam, bau bodyspray yang mulai luntur, serta kilat keringatnya, tampak seakan mereka terlambat pulang ke rumah dari kegiatan ekstra kurikuler di sekolah. Lalu sekali lagi, yang dikomentari hanya bisa meringis menahan malu. Sementara gadis –gadis itu masih menatapnya. Billy tak mampu mengeluarkan sepatah kata.

Pikirannya sekarang bermain dengan sebuah lagu dari band yang beraliran funk; Red Hot Chili Peppers! Dia merasa sangat terbebani untuk bisa menyelesaikan sebuah lagu yang ear-catchy bahkan menjadi masterpiece bagi demo album mereka.

Torture me and torture me
It's forcin' me so torture me
Torture me with socery
It's forcin' me so torture me

Tapi anehnya, dalam pikiran dia ada perasaan yang menyenangkan. Betapa beban itu menjadi sebuah permainan belaka! Dia sungguh tahu bahwa ada yang akan bisa ditulisnya. Dan akan menjadi lagu yang hebat bagi PlayForward, band yang digawanginya.

Hanya saja persoalannya sekarang adalah : Ia belum tahu apa yang akan ditulisnya itu.

+++

“Ini persoalan hidup-mati, Billy!”
“Aku tahu, Bim. Untuk itu aku ingin lagu ini benar-benar lagu yang outstanding. Benar-benar beda dengan band-band yang sekarang ada!”
Teguh, lead guitar PlayForward, akhirnya angkat bicara.
“Bil. Kamu tahu bukan? Sekarang ini, semua yang bisa masuk label itu lagu-lagunya selalu lagu cinta. Agar mereka bisa balik modal, agar kita juga bisa dapat penggemar lebih banyak. Lantas lagu seperti apa yang ada dalam kepalamu?”

Billy cukup kaget dengan pertanyaan dan kesangsian Teguh akan lagu terakhir ini. Padahal hampir semua penggemar PlayForward tahu bahwa PlayForward terkenal dengan lagu-lagu yang sederhana liriknya. Tentang apa saja tetapi punya makna yang dalam. Seperti lagu “Barangkali Bila” yang liriknya berisi anjuran agar orang menangis. Atau lagu “Percakapan Gelas Kristal” yang isinya hanya bercerita tentang kegelisahan dua buah gelas anggur yang tak kunjung dicecap pada suatu pertemuan sepasang kekasih.

“Guh, lagu yang aku bikin nanti mungkin mengarah ke lagu cinta. Tetapi aku ingin yang “bittersweet”, yang “gloomy”, seperti “Bohemian Rhapsody”, seperti “Achilles Last Stands” atau “Starway to Heaven” malah,” jelasnya.

Kini ganti Teguh yang manggut-manggut tak bisa lagi berkomentar soal jenis lagu yang hendak jadi pembuka demo album mereka itu.

+++

Rini, gadis berkeringat, dan Hani, temannya kini tampak melongo mendengar uraian panjang lebar dari Billy mengenai beban yang disandangnya hingga malam itu dia meracau; “Cari inspirasi” itu.

“Tapi kamu belum tahu seperti apa lagu itu?”
“Kalau aku sudah tahu, sekarang ini aku sedang di kamar atau di studio untuk membuat aransemennya, Rin!”
“Kalau begitu, mendingan kamu browsing tentang apa saja untuk cari inspirasi, Bil!” Usul Hani.

Bagai mendapat ide cemerlang, Billy langsung mengangguk-angguk riang. Jari telunjuknya segera teracung.

“Benar. Benar. Kenapa tidak terpikir olehku?”

Dan tak berapa lama, Rini dan Hani kembali dibuat bengong oleh tingkah Billy. Karena tanpa mengucap sepatah kata, dia langsung berteriak meminta turun. Dan pergi meninggalkan mereka berdua.

+++

Di internet café itu terdengar lagu hip hop Madonna featuring Justin Timberlake dan Timbaland “4 Minutes”. Billy, selain tidak bisa menikmati lagunya juga tidak “in the mood”, memilih berdiam diri dan tidak menggoyangkan anggota badan mengikuti irama lagu itu yang sebenarnya enak untuk bergoyang kaki. Dipilihnya sebuah PC pada cubicle paling pojok agar dia tidak terusik oleh lalu lalang pengguna dan karyawan di sana.

Cukup lama Billy memilih “keyword” untuk melakukan browsing pada situs Google. Tadi dia memilih kata : love song dan sekarang yang muncul paling atas adalah sebuah icon video di youtube yang berisikan live performance Tesla dengan lagu Love Song. Dia hampir berteriak: “Rock is number one in this chart, maaan!” atau “Rocks Rule!” Karena ternyata untuk kategori love song yang pertama muncul adalah kelompok musik beraliran rock.

Akhirnya setelah dia mulai bosan browsing beberapa halaman Google. Dia menyerah. Diarahkannya kursor pada icon Yahoo! Mesenger. Dia memilih untuk chating! Namun dilihatnya tak ada teman yang “hidup” maka dia pun membuka chat room. Dipilihnya room di Jakarta. Jakarta Global Chat Room : 13.

Diperhatikan satu per satu nama yang ada di dalam room itu. Lalu dia tertarik pada satu nama yang tampaknya “girly” : ayuni.

billy : hi
ayuni : hi too. asl pls?
billy : billy. 20 m jkt. n u?
ayuni : pembayun. 26 f jkt
billy : pasti kerja dong ya?
ayuni : sok tahu deh. U kuliah?
billy : nope. aku cuma anak band.
ayuni : sayang sekali. Kenapa tidak kuliah?
billy : tahun ini memang sengaja gak kuliah. mau total ngurus PlayForward
ayuni : that’s ur band name? sound good.
billy : thx. sibuk?
ayuni : nope. iseng chating nunggu suami pulang.
billy : wah ibu rumah tangga yang baik ya
:)
ayuni : I try my best on it ;)

Billy kebingungan memulai lagi pembicaraan. Dia merasa jengah dengan perbedaan usia dan “pekerjaan” dengan lawan bicaranya. Hingga akhirnya dia memilih pasif.

ayuni : tell me abt yrs
billy : not much. cuma lagi mau masukin demo album ke label.
n u?
ayuni : regularly housewife while expecting too
billy : wah selamat ..anak pertama?
ayuni : gitu deh ..thx
billy : sound happy ever after family
ayuni : kamu broken home?
billy : tidak. tidak. aku sedang mencari inspirasi untuk satu lagu terakhir.
ayuni : bagaimana dengan cinta? Pastinya kamu pernah jatuh cinta, bukan?

Kenapa lagi-lagi dia dihadapkan dengan pertanyaan seperti itu? Lagu cinta? Kenapa bukan lagu patah hati? Lagu ingin sendiri? Lagu ingin mati? Lagu persiapan untuk menyendiri?

Kenapa harus lagu cinta?

billy : sudah banyak yang bilang begitu. Tapi mungkin kamu..
eh..mbak ayuni belum tahu bahwa PlayForward justru tampil dengan
lagu-lagu yang sangat sederhana.
ayuni : panggil saja ayuni. Aku belum pernah dengar lagu-lagu kamu ‘kan?
billy : hm, begini. Saya tuliskan salah satu syair laguku.
dan ayuni bisa menilai seperti apa band kami. Bagaimana?
ayuni : sound fair. Go ahead.

Lalu dengan lancar, diketikkannya lirik lagu “Barangkali Bila” yang dibuatnya ketika mendengar temannya kehilangan anak semata wayang dalam usia yang sangat muda.

Barangkali Bila

Barangkali bila kau menangis,
ada beban yang turut terguncang
dan jatuh seiring air mata itu

Seperti helai daun yang tercabut
dan luruh menjauh dari tangkai-tangkai
yang menggenggamnya saat badai

Barangkali bila kau berteriak,
ada yang merasa terpanggil
atau tiba-tiba ingat jalan pulang

Seperti tangan yang buru-buru
menggenggam ujung tangkai payung
lalu berjalan terhuyung menahan
angin yang semakin kencang

ayuni : puitis. siapa yang buat?
billy : aku sendiri
ayuni : hebat! aku senang punya teman yang bisa menulis puisi
billy : aku merasa tidak bisa. Itu lebih ke syair lagu biasa.
ayuni : hm. Aku ingin bisa menulis.
billy : tulislah. Siapa tahu aku bisa ambil untuk bahan laguku.
ayuni : entahlah. Aku merasa kisah yang aku punya mirip dongeng khayalan.
billy : siapa tahu bisa jadi inspirasi sebuah lagu cinta?
ayuni : lagu cinta? Yang aku punya seperti tanda bahaya!

Teka-teki apa lagi ini? Billy semakin merasa pembicaraannya melantur. Tapi dia juga penasaran, apa maksud pernyataan Ayuni itu.

ayuni : boleh tahu nomor hp mu?
billy : boleh. 08778978977
ayuni : ok. Aku hubungi lain kali. Suamiku sudah datang. bye.

Prologue

Majalah Rolling Stone itu dilemparkan ke lantai. Dia merasa kesal pada kebodohannya sendiri.

“Kenapa aku tak bisa membuat lirik yang bagus seperti Sting?”

Jelas, Gordon Summer itu bukan saingan bagi anak muda yang baru menginjak kepala dua. Latar belakang Sting sebagai guru sastra di sekolah menengah membuat lirik-lirik lagu baik kelompok The Police dulu maupun sekarang saat dia solo sangatlah puitis, punya nilai lebih dibandingkan lirik-lirik lagu band top chart dalam negeri yang isinya syair cinta itu.

Dia mendengus. Entah sudah berapa hari dia mengurung diri di kamar kost tanpa latihan. Setiap kali telepon genggamnya bergetar atau berdering, dia langsung menyentuh tombol merah. Mematikannya. Jelas sekali dia sangat tidak ingin diganggu. Bahkan di kamar itu tak terdengar suara musik dari radio cassette, laptop, atau i-podnya. Dia ingin benar-benar bisa mendengar hening yang berasal dari dirinya atau sekitarnya.

Kali ini diraihnya gitar. Alat musik yang sudah diakrabinya sejak dia menginjak usia belasan tahun. Dia tahu, bahkan sangat tahu kemampuan bergitarnya tidak meningkat pesat. Maka dari itu, dia lebih memilih menjadi song writer dan vocalist dari band indie yang dibentuk bersama beberapa teman.

Hampir seminggu setelah dia berjanji hendak membuat satu komposisi lagu rock yang bisa menjadi jagoan dalam demo album mereka selain sembilan lagu yang sudah ada.

“Masterpiece-nya Bon,” ujar dia kepata Bondan, pemain keyboard.

Bondan, Teguh, Hari, dan Bimo hanya menggelengkan kepala jika dia sudah bersikeras pada sesuatu hal. Bukan sebuah rahasia bila Billy sudah ingin mencipta lagu, maka mereka hanya bisa menunggu. Paling tidak seminggu. Selama ini, mereka tidak pernah kecewa dengan keputusan itu. Mereka juga tahu Billy akan berusaha dengan sangat keras untuk bisa mewujudkan janjinya itu.

“Berapa lama?” Bimo, drummer bertanya padanya. Billy dengan senyum yang menenangkan, hanya mengerling sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan pasti.

“Satu minggu!”

Cover Bayangan Novel "SKLRuB"