Rabu, 14 Mei 2008

Di Luar Gerimis, Kita Bersatu Dalam Tangis

We're just two lost souls
Swimming in a fish bowl,
Year after year,
Running over the same old ground.
What have we found?

-- Wish You Were Here by Pink Floyd --

“Capek, Mas?”
Yang disapa hanya menggangguk. Menghampir yang menyapa dan melingkarkan lengan pada pundak lembut itu. Sejenak muka mereka berhadapan dan bibir mereka pun berkecupan.

“Tumben kamu chatting. Sama siapa?”
“Entahlah. Dia menyebut namanya “billy”. Dan bilang dia lulus sma tetapi tidak melanjutkan kuliah untuk mengurus bandnya.”
“Kamu mau membantunya?”

Yang ditanya hanya memamerkan senyum lengkap dengan lesung pipitnya. Lalu ditunjukkannya jendela chat yang masih menyimpan percakapannya dengan seseorang bernama “billy.”

“Coba Mas baca syair lagu yang dia buat. Aku suka. Jujur dan menyentuh. Jarang ada band yang bisa membuat syair seindah ini tapi sederhana.”
“Hm. Ini syairnya? Ya. Nampaknya cukup simpel dan elegan. Tidak ada perasaan yang mendayu-dayu, mengharu biru tapi rasanya cukup kena di hati.”
“Bagus bukan?” Ayuni kembali bertanya.

Iwan Purbaya, suaminya, tersenyum. Dia tahu istrinya memang tidak betah berdiam diri pada hal-hal yang berhubungan dengan seni. Dulu, Iwan mengenal Ayuni dari sebuah pertunjukan Sendratari Pendet–Gambyong, gabungan tari Jawa dan Bali. Ayuni memerankan anak Calon Arang : Ratna Manggali. Dan Iwan seperti halnya Bahula, tokoh anak Mpu Barada, pun akhirnya jatuh hati.

Hanya saja, selama hampir dua tahun pernikahan mereka, Iwan belum pernah sekali pun diajak untuk pulang ke kampung halaman Ayuni untuk bertemu ayah dan ibunya. Sewaktu melamar, Ayuni minta dilamar di sebuah rumah di bilangan Kemang. Katanya itu rumah Neneknya. Di sana memang lengkap hadir semua sesepuh dan kerabat keluarga besar Ayuni. Tapi dalam hati seorang Iwan Purbaya ada yang masih berupa tanda tanya; Di mana dan bagaimana Ayuni menghabiskan masa kecilnya?

Menurut pakar psikologi yang pernah dijumpainya, pengalaman masa kecil akan selalu membekas dan berpengaruh dalam pemikiran juga kedewasaan seseorang. Dan bukan berarti Ayuni tidak dewasa dan tidak bijak berpikir selama Iwan ketahui, tetapi Iwan hanya ingin memiliki Ayuni secara lebih utuh. Termasuk dengan bayang-bayang masa kelam masa lalunya, jika ada. Yang Iwan ketahui sampai hari ini, Ayuni adalah gadis yang masih seperti seorang penari. Selalu menampakkan keceriaan di atas panggung kehidupan. Sekali pun belum pernah terlihat ia menerawang sekedar menggali sebuah kenangan atau menemukan kembali jalan-jalan yang pernah menghilang.

Bagi Iwan, hal seperti itu sangat tidak betul. Dia ingin tahu sedetil-detilnya seperti apa Ayuni, istrinya itu. Maka ketika malam ini dia melihat Ayuni begitu antusias dengan sebuah syair lagu yang puitis, dia pun merasakan seperti menyentuh ujung pegangan pintu yang sekian lama tersembunyi. Ada harapan untuk membukanya!

“Ya. Seperti aku bilang tadi syair lagu ini simple dan elegan. Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, istriku. Apakah kau berniat membantu anak ini dan band-nya?”

Ayuni tertawa. Seperti anak yang menemukan mainannya kembali.

“Ini kesempatan, Mas! Aku sudah lama menganggur di rumah. Aku ingin punya kegiatan. Aku mau membantu PlayForward.”
“PlayForward? Nama band itu? Mengingatkan aku pada sebuah film lama. Pay It Forward. Kamu ingat tidak?”
“Ingat. Film tentang membayar kebajikan kepada orang lain.”
“Film yang bagus. Aku tidak tahu bagaimana caranya kamu hendak membantu mereka. Tapi apakah betul-betul sudah kamu pikirkan, Sayang?”

Sambil berkata “Sayang” Iwan Purbaya mengacak mesra rambut istrinya. Ayuni menghindar dan meraih telepon genggamnya.

“Aku bisa hubungi Mas Pur untuk menguji permainan mereka. Mas tahu bukan Mas Pur punya banyak referensi untuk band berbakat.” Yang dibilang Mas Pur masih termasuk kerabat dekat Ayuni. Dia mempunyai studio dan kursus musik di berbagai kota. Raden Mas Purnama Jaya Kesuma tepatnya adalah lulusan sebuah institut musik di Wina, Austria. Dia menjadi terkenal karena pernah sukses menyelenggarakan sebuah konser musik di untuk Istana Kepresidenan.

”Baiklah jika itu maumu. Tapi aku kok curiga kamu tiba-tiba merasa perlu membantu mereka. Ada apa?”

“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Seperti yang aku perlihatkan kepada Mas tadi, aku tertarik dengan syair lagu mereka yang sederhana. Itu saja. Dan itu berbeda!”

Ya. Ayuni memang gadis yang berbeda di mata Iwan. Entah kenapa pertemuannya dengan Ayuni seperti sudah diatur. Entah oleh siapa. Sebuah undangan pertunjukkan tari tiba-tiba diantar ke ruangannya dengan catatan dari Yusuf Purbaya, ayahnya: “Harap di hadiri.” Dan dia menyangka pada acara tersebut akan ada kolega atau rekanan bisnis ayahnya. Nyatanya? Tidak seorang pun dari mereka.

Tetapi untungnya, dia bertemu dengan Ayuni. Dan berkat keterkenalannya, dia bisa berkenalan langsung dengan penari paling cantik dan paling menarik yang pernah dilihatnya.

“Aku mandi dulu ya?”
“Baiklah. Aku siapkan makan malamnya.” Ayuni segera bangkit dan pergi ke arah dapur.

Dari jendela di dapur, Ayuni melihat langit Jakarta yang gelap. Hujan sering datang meskipun seharusnya sekarang sudah memasuki musim kemarau. Pengaruh pemanasan global, kata orang-orang. Hal yang konon dikarenakan pembakaran bahan bakar fosil yang berlebih, membuat lapisan ozon di atmosfir menipis, membuat lautan menjadi semakin asam, dan melelehkan dua per tiga lapisan es di kutub utara. Dan pada akhirnya menimbulkan banyak perubahan cuaca dengan memunculkan beragam badai di seluruh dunia.

Dan awan gelap itu akhirnya pecah menjadi gerimis. Jarum-jarum air yang halus menabrak kaca jendela dapur.

“Hujan angin.” Desis Ayuni pelan.

Tangannya masih sibuk menata piring, sendok, garpu, dan gelas di atas meja makan di sela-sela memanaskan sayur sop kegemaran suaminya. Sebagai istri yang baik, dia berharap setelah suapan pertama Iwan akan memuji kenikmatan dan kehangatan sup ayam yang dia sajikan. Lamunannya terganggu dengan bunyi kaca jendela yang makin meratap dihujami ratusan jarum air, juga desis yang keluar sela-sela tutup panci.

Tak lama kemudian, Iwan sudah muncul dengan kaos oblong produksi www.barkingbuddy.blogspot.com, sebuah “perusahaan” kaos yang mengutamakan tulisan yang aneh-aneh dibandingkan desain kaos. Seperti tulisan pada kaos yang Iwan pakai sekarang : Don’t say I’m Fine – ‘coz I’m in Pain.

“Masak apa?” Iwan menyapa dengan sumringah. Dikibas-kibaskannya lengan yang masih terasa basah oleh air sehabis mandi.
“Biasa. Sup ayam,” dia berusaha tersenyum.
“Wah. Makin lapar aku!” Jerit Iwan kegirangan.
Sambil menyorongkan piring berisi nasi, Ayuni mencibir manja.
“Biasanya juga tidak komentar kalau mau makan malam.”
Iwan tertawa lalu berkata,”Boleh dong, sekali-kali memuji masakan istri.”

Ayuni tidak menjawab. Dia mengulurkan semangkuk sup di hadapan Iwan yang sekarang sudah duduk dengan tenang di meja makan. Sejurus dilihatnya Iwan melipat tangan dan memejamkan mata. Berdoa sebelum makan. Ayuni melangkah ke sebuah televisi berukuran kecil berbentuk agak membulat di bagian sisi-sisinya dan berwarna merah menyala yang terletak di dekat dapur bersihnya.

Sebentar saja terpampang adegan lenggak lenggok seorang model berkulit hitam bernama Saliesha, sesuai dengan tulisan di banner template grafis di bagian bawah layar, sedang menjalani sesi pemotretan dalam acara “The American Next Top Model” dari Channel V.

Iwan melirik pada Ayuni yang mulai terpaku pada acara tersebut, lantas berkomentar untuk meledeknya,”Ingin juga jadi model?”
“Haha. Tidaklah, Mas,” Ayuni tertawa. Matanya menyipit. “Lagi pula, agency mana yang tertarik dengan seorang ibu berbadan dua? Ada-ada saja.”
“Jangan salah. Banyak kok diperlukan model baju hamil,” tukas Iwan. Namun Ayuni sedang tidak ingin melanjutkan diskusi ringan itu. Dia lebih memilih memindahkan kanal televisi. Sebentar saja, meja makan itu menjadi semakin meriah dengan suara Roger Waters dari video klip lama Pink Floyd : Wish You Were Here.

So, so you think you can tell
Heaven from Hell,
blue skies from pain.

Can you tell a green field
from a cold steel rail?
A smile from a veil?

Do you think you can tell?

Seakan terbius, mereka berdua tenggelam dalam kebisuan percakapan. Di antara suara hujan di luar yang semakin deras, permainan gitar David Gilmour yang sangat bluesy, denting sendok di piring Iwan, dan gumam bibir Ayuni yang mencoba mengikuti irama lagu itu terbangkitkan ruang kosong yang seakan perlahan-lahan mengurung kehidupan rumah tangga mereka. Iwan mendengus seperti merasakan kehadiran sang kesepian. Dan demi mendengar dengus dari hidung Iwan, Ayuni melemparkan senyum yang teramat sulit untuk diartikan.

0 komentar: