Rabu, 14 Mei 2008

Kami (tak) Terlalu Muda untuk Mengenali Dunia

Where does the answer lie?
Living from day to day
If it's something we can't buy
There must be another way

--Spirits in the Material World by The Police --


“Tidak diangkat?”

“Seperti kemarin dan kemarinnya lagi. Dia tidak mau mengangkat telepon dari kita,” keluh Bimo pada Teguh yang bertanya.

Di telapak tangan Bimo masih berpendar lampu LED telepon genggam yang menandakan belum lama dia berusaha menelepon seseorang.

“Kita tidak bisa diam saja, Bim. Kita harus membantu Billy untuk segera menemukan lagu jagoan kita. Aku punya satu syair, belum lengkap sih, tapi rasanya asyik kalau kita mainkan,” Teguh langsung saja mengemukakan pendapatnya tanpa diminta.

“Guh, kamu seperti tidak pernah kenal Billy. Dia itu orangnya keras kepala. Kalau dia bilang dia yang bikin lagu, ya dia akan bikin lagu untuk kita.”

“Tapi ini sudah empat hari, Man!” Suara Teguh meninggi, lalu,”Dia masih belum ada kabar. Lagipula aku yakin lirik yang aku punya tak kalah bagus dari punya dia nanti!”

Teguh menyodorkan selembar kertas berpartitur kepada Bimo. Bimo dengan rasa enggan menerima lalu mencoba mencermati apa yang tertulis di atas kertas itu.

Ketika Pintu Tertutup


Ketika debam pintu kaudengar,
ada perih yang tiba-tiba menjalar,
lalu pandangan mulai nanar,
di depan, jalan semakin samar.

Antara bimbang dan harapan,
di antara segala kenangan,
sepatumu terus berjalan,
melintasi tepian halaman.

Ketika pintu telah tertutup,
masihkah mungkin kudengar meski sayup,
tawa juga tangis, di antara degup
jantung kita yang bicara cinta?

“Jelek, Man!” Bimo berkomentar pendek dengan tatapan yang tajam ke arah Teguh yang sejak tadi berharap hal yang sangat bertolak belakang dari komentarnya itu.

“Maksudmu?” Teguh membelalakkan mata seakan tak percaya sahabatnya merendahkan syair lagu yang susah payah dibuatnya.

Bimo memutar-mutar stik drumnya, lalu mengetuk-ngetukkannya di paha sementara mulutnya bergumam irama lagu “Barangkali Bila” sebelum membuka mulut dan kembali berkata,”Jelek ya jelek. Terlalu melankolis. Cengeng. Dangkal. Apalagi?”

Kelopak mata Teguh rasanya semakin melebar mendengar komentar jelek bertubi-tubi keluar dari mulut Bimo. Dia merasa apa yang dilakukannya sia-sia. Bahkan dilecehkan. Bimo adalah anggota termuda dari PlayForward. Dia baru lulus SMU kemarin. Tapi memang terkenal paling gila dalam hal bacaan. Segala teori Psikologi Sigmund Freud hingga teori Post Modern-nya Derrida telah habis dibaca. Lucunya dia suka mengatakan kehancuran Genesis bukan lantaran sibuknya masing-masing anggota tetapi lebih kepada persoalan gonta-ganti personil yang membuat arah musik Genesis menjadi kabur. Dari mulanya berada dalam lingkaran Progresif Rock menjadi Pop! Itulah awal dari kehancuran Genesis sesungguhnya, demikian pendapat Bimo soal Phil Colins dan teman-temannya. Maka tidak heran jika Bimo lebih mengidolakan drummer Rush, Neil Peart, dibandingkan drummer mana pun di seluruh dunia.

“Bim,” sapa Teguh melemah,”aku tahu kamu lebih menyukai lirik-lirik yang kelam. Tapi aku rasa lirik lagu ini juga sudah kelam, bukan?”

“Bukan begitu, Man! Jangan sakit hati. Kenapa aku bilang lirikmu itu dangkal, karena emosinya masih mengambang. Pintu di sana belum kau gali dengan baik. Ketika pintu ditutup seharusnya menimbulkan gema dalam relung hati pendengarnya. Hal ini bisa membangkitkan intuisi Bondan, Hari, aku untuk menciptakan bebunyian yang terkesan kosong dan dalam untuk musiknya. Seperti bunyi bende yang menyudahi pertempuran. Seperti bunyi titik air jatuh dalam lubang perigi. Begitu seharusnya efek dari kata debam pintu yang tertutup itu. Kalau mengambil ironi dari kata itu, debam pintu yang tertutup itu membuka sebuah ruang yang dalam dan hening. Nir suara. Kosong! Ngelanut!”

Didera pernyataan yang panjang lebar hanya untuk sepatah kata “debam pintu yang tertutup” membuat Teguh tidak berani lagi mengungkit kebaikan yang ingin dia sampaikan dalam syair lagu miliknya. Dia memilih duduk seperti kucing yang kecewa dengan langkah kaki sang pemilik yang ternyata tidak membawa makanan untuknya.

“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Bim?” Teguh bertanya sekali lagi, tetapi kali ini dengan nada kepasrahan yang teramat jelas.

“Nothing. Just waiting.” Di bibir Bimo terulas senyum. Meskipun bukan sebuah senyum kemenangan atas debat dengan Teguh.

“Waiting for Godot?” Seringai Teguh.

“No, Man. Waiting for Billy!” Bimo meraih minuman kaleng di hadapannya dan mereguk isinya.

+++

Suasana PintPoint, tempat bilyar favorit anak-anak PlayForward, semakin ramai. Suara bola yang bergeletar pada karpet hijau lalu memantul di tepian meja teramat sering terdengar di antara derai tawa dan denting gelas serta botol.

“Ndan, sudah dapat kabar dari Billy belum?”

“Belum ada, Guh. Paling-paling anak itu sedang nangkring di atap rumah kosong memandang bintang di langit! Seperti tidak pernah tahu kebiasaannya saja kalau lagi cari inspirasi,” sahut Bondan sambil menggosok ujung tongkat bilyar dengan kapur, lalu bersiap-siap untuk memukul bola kembali.

Setelah memukul bola dan tidak ada satu bola pun yang masuk ke dalam lubang, Bondan mengambil minuman kaleng dan memulai pembicaraan dengan Teguh.

“Kamu sepertinya cukup senewen dengan teman kita satu itu, Guh? Ada apa sebenarnya?” Bondan sepertinya mengendus kekuatiran Teguh akan janji Billy untuk menyelesaikan satu lagu itu.

Yang ditanya agak gelapan mencari jawaban. Dia teringat peristiwa barusan di markas PlayForward dengan Bimo sebelum mereka bergabung dengan Bondan dan Hari di PintPoint sekarang ini.

“Tidak, Ndan. Aku cuma merasa Billy perlu kita bantu untuk menyelesaikan tugas ini. Aku tadi sudah berusaha membuat satu lagu, tapi Bimo bilang syairnya jelek dan dangkal,” Teguh lantas menghela nafas panjang setelah mengungkapkan isi hatinya.

“Tenang saja lah, Guh. Billy, teman kita itu, punya tekad yang kuat jika berurusan dengan lagu. Meskipun dia bukanlah pencipta lirik dan lagu yang jago, tetapi selama ini apa yang dia buat sangat baik buat kita-kita. Bukan begitu?”

“Ya. Ya. Aku tahu, Ndan. Aku cuma berusaha membantu. Siapa tahu berguna,” ujar Teguh lemas setelah pendapatnya ditolak oleh dua orang temannya dalam satu hari itu.

“Soal lirik lagumu itu, bagaimana kalau kita jadikan lagu? Mudah-mudahan bisa jadi lagu yang bagus.” Hibur Bondan.

“Yang benar saja, Ndan. Apa kata Bimo nanti?”

“Kita ubah dikit-dikit syairnya. Biar tidak cengeng begitu!” Bondan merangkul bahu Teguh sambil tertawa-tawa. Sementara yang dirangkul semakin bengong, dan karena omongan Bondan itu semakin menguatkan pendapat Bimo soal jeleknya syair yang dia buat. Dia melirik ke sekeliling. Di sisi meja yang lain dilihatnya Hari dan Bimo sedang berbincang serius. Dan dia sudah bisa menduga perbincangan keduanya pasti tentang hal-hal yang berbau filosofis mengingat Hari dan Bimo paling doyan mengupas segala hal dari sisi yang paling dalam. Dia mengacungkan botol yang isinya tinggal setengah ke arah mereka, setelah dilihatnya Hari melirik ke arahnya. Hari melambaikan tangan. Memanggilnya.

“Guh. Kamu ingat permainan riff gitar John Squire di lagu Waterfall?”

“Ya. Dia konon terinspirasi lagu Rain-nya The Beatles. Dan permainan riff itu berhasil untuk menimbulkan efek segar seperti sebuah hari Minggu yang cerah,” papar Teguh pada Hari.

“Tepat sekali! Itu yang dari tadi aku coba jelaskan kepada kawan kita, Bimo, bahwa setiap nada bisa menimbulkan getar yang berbeda bagi pendengarnya.”

Bimo yang diserang begitu tidak mau tinggal diam.

Hei, Man. Aku paham soal itu. Yang aku maksud, sekarang ini rasanya membangun imaji pendengar dalam bebunyian musik kurang banyak disentuh. Kebanyakan musisi lebih memilih lirik yang berusaha merangkul emosi pendengar.”

“Mainstream-nya mungkin sedang ke arah sana, Man!” Teguh terlihat ingin “terlibat” dalam diskusi itu.

“Psychedelic is over, Brother. Sekarang musik dalam lagu diciptakan untuk lebih membangun harmonisasi suasana. Agar sinkron antara isi lirik dengan suasana musiknya.”

“Pendapat yang aneh,” sahut Bimo mendengar ocehan Hari, ”Bebunyian tidak ada hubungan langsung dengan era Psychedelic. Sejak jaman orkestra klasik juga begitu. Musik adalah harmoni. Padu padan bunyi agar mendapat efek emosi pendengar. Musisi-musisi era psychedelic hanya menguatkan bahwa bunyi tertentu membuat efek emosi tertentu. Ditunjang dengan lirik yang butuh kontemplasi agar bisa merasakan apa sesungguhnya yang dirasakan oleh pencipta lagu itu,” tukas Bimo.

Jika sudah berargumen seperti ini, Bimo menjadi satu-satunya orang yang selalu ingin menang.

“Ok, Bro. Sekarang yang ingin kita bangun sebenarnya musik yang seperti apa?” Hari mulai mengendur.

“Bukan musik yang sulit, bukan?” Teguh pun mulai bosan dengan argumentasi yang cenderung debat kusir itu.

“Simpel, Bro. Simpel. Musik yang seperti kita telah buat selama ini. PlayForward! Musik yang membawa pendengar musik kita pada pengalaman hidup mereka sendiri.”

“Maksudmu?” Hari dan Teguh geleng-geleng kepala.

Permainan gitar Teguh yang mirip-mirip rintihan seseorang yang ditinggal kekasih. Suara-suara yang kau ciptakan lewat permainan keyboard-mu Hari kadang seperti membentuk ruangan-ruangan yang bisa kita lewati; trotoar, pintu pagar, selasar rumah sakit, lorong-lorong kelas, dan lain-lain. Lalu permainan drum-ku adalah ketukan sepatu, denyut nadi dan degup jantung, juga teriakan gembira mereka yang mendengarkan. Dan lirik lagu yang Billy ciptakan adalah perasaan yang mungkin tak terperhatikan dalam kehidupan mereka. That’s what we are! PlayForward!”

“Kenapa kau diciptakan terlalu filosofis, Man?” Hari mengakhiri perbincangan dengan meneguk minuman kalengnya. Sementara Teguh menuntaskan isi botol yang dari tadi tinggal setengah.

Bimo, melihat keduanya dengan seulas senyum yang belum kuncup dari bibirnya. Dan masih bukan sebuah senyum keme-nangan dari argumentasi sederhana malam itu.

Dari speaker ruangan, menghentak suara cabikan Gordon Summer meningkahi permainan drum Stewart Copeland yang mirip-mirip beat reggae.

There is no political solution
To our troubled evolution
Have no faith in constitution
There is no bloody revolution

0 komentar: