Where does the answer lie?
Living from day to day
If it's something we can't buy
There must be another way
--Spirits in the Material World by The Police --
“Tidak diangkat?”
Di telapak tangan Bimo masih berpendar lampu LED telepon genggam yang menandakan belum lama dia berusaha menelepon seseorang.
“Kita tidak bisa diam saja, Bim. Kita harus membantu Billy untuk segera menemukan lagu jagoan kita. Aku punya satu syair, belum lengkap sih, tapi rasanya asyik kalau kita mainkan,” Teguh langsung saja mengemukakan pendapatnya tanpa diminta.
“Guh, kamu seperti tidak pernah kenal Billy. Dia itu orangnya keras kepala. Kalau dia bilang dia yang bikin lagu, ya dia akan bikin lagu untuk kita.”
“Tapi ini sudah empat hari, Man!” Suara Teguh meninggi, lalu,”Dia masih belum ada kabar. Lagipula aku yakin lirik yang aku punya tak kalah bagus dari punya dia nanti!”
Teguh menyodorkan selembar kertas berpartitur kepada Bimo. Bimo dengan rasa enggan menerima lalu mencoba mencermati apa yang tertulis di atas kertas itu.
Ketika Pintu Tertutup
Ketika debam pintu kaudengar,
ada perih yang tiba-tiba menjalar,
lalu pandangan mulai nanar,
di depan, jalan semakin samar.
Antara bimbang dan harapan,
di antara segala kenangan,
sepatumu terus berjalan,
melintasi tepian halaman.
Ketika pintu telah tertutup,
masihkah mungkin kudengar meski sayup,
tawa juga tangis, di antara degup
jantung kita yang bicara cinta?
“Maksudmu?” Teguh membelalakkan mata seakan tak percaya sahabatnya merendahkan syair lagu yang susah payah dibuatnya.
Bimo memutar-mutar stik drumnya, lalu mengetuk-ngetukkannya di paha sementara mulutnya bergumam irama lagu “Barangkali Bila” sebelum membuka mulut dan kembali berkata,”Jelek ya jelek. Terlalu melankolis. Cengeng. Dangkal. Apalagi?”
Kelopak mata Teguh rasanya semakin melebar mendengar komentar jelek bertubi-tubi keluar dari mulut Bimo. Dia merasa apa yang dilakukannya sia-sia. Bahkan dilecehkan. Bimo adalah anggota termuda dari PlayForward. Dia baru lulus SMU kemarin. Tapi memang terkenal paling gila dalam hal bacaan. Segala teori Psikologi Sigmund Freud hingga teori Post Modern-nya Derrida telah habis dibaca. Lucunya dia suka mengatakan kehancuran Genesis bukan lantaran sibuknya masing-masing anggota tetapi lebih kepada persoalan gonta-ganti personil yang membuat arah musik Genesis menjadi kabur. Dari mulanya berada dalam lingkaran Progresif Rock menjadi Pop! Itulah awal dari kehancuran Genesis sesungguhnya, demikian pendapat Bimo soal Phil Colins dan teman-temannya. Maka tidak heran jika Bimo lebih mengidolakan drummer Rush, Neil Peart, dibandingkan drummer mana pun di seluruh dunia.
“Bim,” sapa Teguh melemah,”aku tahu kamu lebih menyukai lirik-lirik yang kelam. Tapi aku rasa lirik lagu ini juga sudah kelam, bukan?”
“Bukan begitu, Man! Jangan sakit hati. Kenapa aku bilang lirikmu itu dangkal, karena emosinya masih mengambang. Pintu di
Didera pernyataan yang panjang lebar hanya untuk sepatah kata “debam pintu yang tertutup” membuat Teguh tidak berani lagi mengungkit kebaikan yang ingin dia sampaikan dalam syair lagu miliknya. Dia memilih duduk seperti kucing yang kecewa dengan langkah kaki sang pemilik yang ternyata tidak membawa makanan untuknya.
“Lalu apa yang bisa kita lakukan, Bim?” Teguh bertanya sekali lagi, tetapi kali ini dengan nada kepasrahan yang teramat jelas.
“Nothing. Just waiting.” Di bibir Bimo terulas senyum. Meskipun bukan sebuah senyum kemenangan atas debat dengan Teguh.
“Waiting for Godot?” Seringai Teguh.
“No,
+++
Suasana PintPoint, tempat bilyar favorit anak-anak PlayForward, semakin ramai. Suara bola yang bergeletar pada karpet hijau lalu memantul di tepian meja teramat sering terdengar di antara derai tawa dan denting
“Ndan, sudah dapat kabar dari Billy belum?”
“Belum ada, Guh. Paling-paling anak itu sedang nangkring di atap rumah kosong memandang bintang di langit! Seperti tidak pernah tahu kebiasaannya saja kalau lagi cari inspirasi,” sahut Bondan sambil menggosok ujung tongkat bilyar dengan kapur, lalu bersiap-siap untuk memukul bola kembali.
Setelah memukul bola dan tidak ada satu bola pun yang masuk ke dalam lubang, Bondan mengambil minuman kaleng dan memulai pembicaraan dengan Teguh.
“Kamu sepertinya cukup senewen dengan teman kita satu itu, Guh?
Yang ditanya agak gelapan mencari jawaban. Dia teringat peristiwa barusan di markas PlayForward dengan Bimo sebelum mereka bergabung dengan Bondan dan Hari di PintPoint sekarang ini.
“Tidak, Ndan. Aku cuma merasa Billy perlu kita bantu untuk menyelesaikan tugas ini. Aku tadi sudah berusaha membuat satu lagu, tapi Bimo bilang syairnya jelek dan dangkal,” Teguh lantas menghela nafas panjang setelah mengungkapkan isi hatinya.
“Tenang saja lah, Guh. Billy, teman kita itu, punya tekad yang kuat jika berurusan dengan lagu. Meskipun dia bukanlah pencipta lirik dan lagu yang jago, tetapi selama ini apa yang dia buat sangat baik buat kita-kita. Bukan begitu?”
“Ya. Ya. Aku tahu, Ndan. Aku cuma berusaha membantu. Siapa tahu berguna,” ujar Teguh lemas setelah pendapatnya ditolak oleh dua orang temannya dalam satu hari itu.
“Soal lirik lagumu itu, bagaimana kalau kita jadikan lagu? Mudah-mudahan bisa jadi lagu yang bagus.” Hibur Bondan.
“Yang benar saja, Ndan. Apa kata Bimo nanti?”
“Kita ubah dikit-dikit syairnya. Biar tidak cengeng begitu!” Bondan merangkul bahu Teguh sambil tertawa-tawa. Sementara yang dirangkul semakin bengong, dan karena omongan Bondan itu semakin menguatkan pendapat Bimo soal jeleknya syair yang dia buat. Dia melirik ke sekeliling. Di sisi meja yang lain dilihatnya Hari dan Bimo sedang berbincang serius. Dan dia sudah bisa menduga perbincangan keduanya pasti tentang hal-hal yang berbau filosofis mengingat Hari dan Bimo paling doyan mengupas segala hal dari sisi yang paling dalam. Dia mengacungkan botol yang isinya tinggal setengah ke arah mereka, setelah dilihatnya Hari melirik ke arahnya. Hari melambaikan tangan. Memanggilnya.
“Guh. Kamu ingat permainan riff gitar John Squire di lagu Waterfall?”
“Ya. Dia konon terinspirasi lagu Rain-nya The Beatles. Dan permainan riff itu berhasil untuk menimbulkan efek segar seperti sebuah hari Minggu yang cerah,” papar Teguh pada Hari.
“Tepat sekali! Itu yang dari tadi aku coba jelaskan kepada kawan kita, Bimo, bahwa setiap nada bisa menimbulkan getar yang berbeda bagi pendengarnya.”
Bimo yang diserang begitu tidak mau tinggal diam.
“
“Mainstream-nya mungkin sedang ke arah
“Psychedelic is over, Brother. Sekarang musik dalam lagu diciptakan untuk lebih membangun harmonisasi suasana. Agar sinkron antara isi lirik dengan suasana musiknya.”
“Pendapat yang aneh,” sahut Bimo mendengar ocehan Hari, ”Bebunyian tidak ada hubungan langsung dengan era Psychedelic. Sejak jaman orkestra klasik juga begitu. Musik adalah harmoni. Padu padan bunyi agar mendapat efek emosi pendengar. Musisi-musisi era psychedelic hanya menguatkan bahwa bunyi tertentu membuat efek emosi tertentu. Ditunjang dengan lirik yang butuh kontemplasi agar bisa merasakan apa sesungguhnya yang dirasakan oleh pencipta lagu itu,” tukas Bimo.
Jika sudah berargumen seperti ini, Bimo menjadi satu-satunya
“Ok, Bro. Sekarang yang ingin kita bangun sebenarnya musik yang seperti apa?” Hari mulai mengendur.
“Bukan musik yang sulit, bukan?” Teguh pun mulai bosan dengan argumentasi yang cenderung debat kusir itu.
“Simpel, Bro. Simpel. Musik yang seperti kita telah buat selama ini. PlayForward! Musik yang membawa pendengar musik kita pada pengalaman hidup mereka sendiri.”
“Maksudmu?” Hari dan Teguh geleng-geleng kepala.
“
“Kenapa kau diciptakan terlalu filosofis, Man?” Hari mengakhiri perbincangan dengan meneguk minuman kalengnya. Sementara Teguh menuntaskan isi botol yang dari tadi tinggal setengah.
There is no political solution
To our troubled evolution
Have no faith in constitution
There is no bloody revolution
…
0 komentar:
Poskan Komentar