Rabu, 14 Mei 2008

Langit Lengang Lapang

I'm gonna lay my head
On that lonesome railroad line
And let the 2:19 ease my troubled mind

- Troubled in Mind by Janis Joplin -

Seorang karyawan internet café memberi isyarat kepada Billy bahwa sebentar lagi – entah berapa lama lagi tepatnya – café itu akan ditutup, dengan menunjukkan jari tangan kanan ke arah pergelangan tangan kirinya.

“Ha? Oh. Ya. Ya. Sebentar lagi. Saya hanya ingin menyimpan satu file ke dalam flash disc saya,” tukasnya sebagai balasan. Dijawab demikian, si pemberi kode waktu itu manggut-manggut sambil mengacungkan jempol tangan kanannya.

Billy mencoba merekam “temuan” terakhir yang ia baca dari hasil browsing tadi. Janis Joplin pernah menulis sebuah lagu tentang kekalutan pikiran. Dan dalam lagu Troubled in Mind itu, dia menyatakan dengan segala kelegaan akan dipasrahkan kekalutan itu pada kereta api yang melaju pada pukul 2 lebih sekian menit. Dia mengerutkan dahi. “Kereta yang melaju pada pukul dua atau julukan kereta di lajur rel ke dua ya?” Ada keraguan dalam pikirannya sendiri mencermati lirik lagu Janis Joplin itu.

“Metafora. Mungkin memang sebuah metafora belaka. Tetapi intinya hampir sama dengan apa yang aku pikirkan. Kekalutan bukan jawaban dari sekian hari pencarian ini. Kekalutan bisa menjadi hal yang bisa dicetuskan.” Lagi, dia bergumam sendiri.

Sambil mematikan PC, dia tersenyum. Dia teringat pada Norman Rockwell yang menggambar dirinya sendiri ketika menghadapi “garis-mati” ilustrasi majalah. Mirip dengan Joplin yang menuliskan kekalutan, Rockwell melukis dirinya yang sedang panik mempersiapkan lukisan. Hasilnya sangat mencengangkan. Lukisan Rockwell terlihat sangat natural dan manusiawi, sebab selama ini dia selalu menggambarkan hal-hal yang normatif seperti kebebasan berbicara, kebebasan menjalankan ibadah, dan kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, dan lain-lain yang termasuk dalam 5 macam kebebasan bagi warganegara yang didengungkan pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu. Dengan lukisan “kecelakaan itu” orang menjadi maklum bahwa Rockwell pada dasarnya juga mengalami ketakutan, meskipun hanya sekedar takut gagal membuat karya yang menarik.

Seperti mendapatkan pegangan pintu yang mana pintu itu sendiri nyaris terlupakan, Bily merasakan ada harapan baru akan sesuatu yang lain. Walaupun dia masih merasa hal itu belum tentu menjanjikan apa-apa. Setidaknya, dia merasa beroleh satu alternatif perasaan yang hendak diungkapkan menjadi sebuah lagu. Perasaan kalut yang timbul ketika dia menghadapi ketakutan akan kegagalan berkarya. Itu baru satu alternatif! Dia masih harus mencari lagi. Perasaan-perasaan lain yang berada di antara ketakutan dan kebahagiaan. Perasaan antara!

“Ehm!

Sekali lagi karyawan café itu memberi tanda. Kali ini tanda dengan suara yang jelas sekali bermaksud untuk mengusirnya. Jarum panjang jam sudah mengarah kepada angka 11. Sementara jarum pendeknya sudah dari tadi tegak lurus ke atas. Hampir jam 12 malam!

“Ya.Ya.Ya.”

Dia bersuara seadanya menanggapinya. Rasanya belum juga ada lima menit dia melamunkan perasaan, isyarat kedua untuk segera mengakhiri aktivitas internet itu sudah terdengar lagi.

Sambil meninggikan kerah jaketnya, dia menghampiri kasir dan membayar biaya penggunaan PC, koneksi internet, dan dua botol air mineral yang ia minum. Sebagai vocalist dia harus menjaga kesehatan tenggorokannya dengan tidak merokok dan banyak minum air putih. Dia patuh sekali dengan anjuran guru vocalnya itu. Dia melongok keluar pintu setelah mengeluarkan uang dari dompetnya. Cuaca luar yang hujan menurut beberapa pengguna dan karyawan internet café beberapa waktu lalu sudah berhenti rupanya.

Dia berharap dalam perjalanan pulangnya, bisa dilihatnya bintang atau bulan. Sudah lama dia tidak melakukan kebiasaan yang satu itu. Memandangi langit yang penuh bintang. Kebiasaan itu muncul sejak dia membaca sebuah sajak berjudul “Dongeng Tukang Jahit Selimut” karya Hasan Aspahani. Dua baris pada sajak itu mengingatkan dirinya pada kesepian seorang lelaki.

Lelaki itu hidup sendiri. Hanya sendiri.
Terlebih sendiri bila alam sudah berselimut malam.

Tak lama dari transaksi pembayaran, ujung sepatunya sudah menyembul di trotoar. Dia memilih untuk berjalan sebentar. Menikmati malam yang semakin tua, menikmati udara dingin sisa-sisa hujan yang reda, menikmati jalanan renta yang tetirah dari padatnya lalu lintas kota. Dia ingin menjadi saksi pada satu saat jeda.

Aha! Sekarang muncul satu ide lagi selain perasaan antara tadi. Bahwa ternyata ada juga suasana antara! Suasana yang tercipta setelah sesuatu hal terjadi dan sebelum hal lain terjadi. Entah kenapa tiba-tiba otaknya mampu mencerna suasana ganjil seperti ini? Sesaat kemudian setelah cetusan itu, Billy seperti tak lagi ambil peduli pada pertempuran pernyataan dan pertanyaan pada otak yang jalinan sinaps-nya terus bekerja itu. Dari mulutnya terdengar reffrain lagu Troubled in Mind.

+++

Bip! Bip!

Telepon genggamnya berbunyi dan bergetar sebentar. Sebuah pesan pendek diterima. Dengan gerak yang ragu, tangan Billy merogoh kantung celana dan mengeluarkan telepon genggam itu. Icon amplop dengan tulisan 1 message received terpampang pada layar telepon genggamnya.

“Paling anak-anak!” Dengusnya saat ibu jarinya bergerak dari tombol © di tengah dan turun ke tombol * pada bagian paling kiri bagian bawah telepon genggam itu.

Ada kabar baik. Besok kita bisa ketemu?

Pesan itu berasal dari sebuah nomor yang tidak pernah dikenalnya. Dia sedikit berpikir keras tentang siapa yang mengirimkan pesan itu sebelum dia berpendapat bahwa si pengirim adalah teman chatnya beberapa waktu lalu. Ayuni!

Lalu dengan sedikit bergegas, segera diketiknya pesan pendek balasan:

Ok. Aku tunggu konfirmasi lanjut. jam brp & dmn?

Dengan rasa penasaran Billy membiarkan telepon genggam itu sementara lebih lama dalam genggam tangannya. Siapa tahu sebentar lagi Ayuni akan membalas pertanyaannya. Kira-kira satu menit berlalu, Billy memasukkan kembali telepon genggam itu ke dalam kantung celananya. Dan dia melanjutkan perjalanan malamnya.

Sesekali Billy mendongakkan kepala ke arah langit. Langit sehabis hujan biasanya membiarkan gemintang bercahaya. Tetapi entah kenapa, malam ini masih belum ada satu bintang pun hadir. Dia kemudian membayangkan dirinya begitu kesepian di luar angkasa. Seperti Mayor Penerbang Tom dalam lagu David Bowie yang pernah dinyanyikan ulang oleh Saigon Kick itu.

Mayor Penerbang Tom yang terlunta-lunta dalam kapsul penelitian ruang angkasa yang dikutuknya sebagai kaleng terbang! Billy bergidik sendiri. Membayangkan kesepian dan kehampaan tiada tara bahkan mungkin menjelang kehabisan udara, lalu terlempar dari kapsul roket itu, lalu meledak berkeping-keping di ruang hampa udara yang dingin, kosong, lengang. Tanpa sesiapa yang pernah bisa diajak bicara.

“Mungkin yang kubutuhkan saat ini adalah halusinasi.” Lagi Billy bergumam sendiri. Malam sepi begini memang meliarkan imaji seseorang. Apalagi seseorang yang berada dalam kekalutan pikiran.

“Tapi halusinasi yang seperti apa? Apakah kini aku mengharap bertemu seorang tua yang mengaku sedang dalam perjalanan untuk mengalahkan seekor naga seperti Don Quixote itu? Agar dia bisa menginspirasikan kegilaan atau bahkan semangat paling membara sebagai satria?”

Dia ingat betul ada beberapa sajak di sebuah surat kabar minggu yang mengemukakan beberapa hal tentang satria tua itu. Lalu beberapa bulan setelahnya, pada surat kabar yang lain dimuat wawancara dengan seorang penyair yang lagi-lagi menyinggung peranan Don Quixote itu. Dalam ingatannya, beberapa tokoh dalam karya sastra memang mempengaruhi seorang pencipta lagu. Karya Tolkien dijadikan bahan lagu oleh Led Zepelin, misalnya. Kemudian Sting menuliskan perumpamaan yang diambil dari legenda Yunani, Odiseus. Sekarang muncul ide ke tiga untuk bahan pembuatan lagu jagoannya; mencari bagian yang menarik dari sebuah karya sastra!

Maka seketika sampai di sebuah halte, dia berpikir untuk segera pulang dan membuka-buka beberapa buku yang dimiliki. Tak lama dia telah mengacungkan jari pada sebuah taksi yang berhenti menunggu penumpang, membuka pintu secepat dia kemudian menutupnya, dan meringkukkan diri di kursi belakang. Sebelum akhirnya dia tersadar belum memberitahukan kepada pengemudinya arah yang dikehendaki.

“Bangka, Pak!” Serunya.

Dia menengok ke arah kiri dan kanan, mengamati interior taksi yang ditumpanginya. Aksi itu membuat pengemudi taksi menjadi jengah.

“Ada apa, Mas? Ada yang tertinggal?”

Sang Pengemudi langsung menyergapnya dengan sebuah pertanyaan.

“Tidak. Saya hanya merasa kesepian. Ada radionya, Pak?”

“Ada. Mau disetel?”

“Boleh, Pak. Daripada sepi!”

Tak lama kemudian, mengalunlah lagu nostalgia Indonesia lama dari radio dalam taksi itu. Mendengar itu, Billy tersenyum kecut.

0 komentar: