Let me whisper in your ear
Say the words you long to hear
- Do You Want to Know A Secret by The Beatles -
Ketika baru saja Billy dipersilakan duduk, dia segera mengingat sebuah lagu yang pernah dibuatnya. Lagu itu bercerita tentang kegelisahan gelas yang merasa tidak bisa memenuhi tanggung jawabnya menjaga anggur yang terisi di dalamnya tetap dingin dan segar hingga saat diteguk oleh pemesannya. Hal ini terjadi karena si pemesan sibuk bercerita dan bermesraan dengan kekasihnya hingga lupa untuk minum.
“Akhirnya bisa ketemu juga tempatnya?” Ayuni mengembalikan pikiran Billy yang melayang tadi. Kini Billy sadar bahwa dirinya sedang berhadapan dengan seseorang yang baru beberapa jam dikenalnya dari dunia maya.
“Ya. Sempat bingung tadi ketika mencari tempat ini. Makanya agak terlambat datang,“balasnya.
“Tidak mengapa. Ya sudah, kamu pesan saja dulu. Pasti sudah lapar, bukan?”
“Nanti saja. Aku sangat penasaran dengan beberapa pernyataanmu tadi malam. Baik yang kita bicarakan via chat, maupun pesan pendek yang kamu kirimkan.”
Ayuni tersenyum sebelum bicara.
“Baik. Mana dulu yang ingin kautanyakan?” Dia seperti hendak menantang kesabaran Billy akan maksud Ayuni.
“Ok. Yang terakhir saja dulu. Soal kabar baik. Kabar baik apakah yang kamu maksud?”
Lagi-lagi Ayuni tersenyum. Sebenarnya dia tidak menduga Billy yang dalam pikirannya adalah seorang yang misterius, pada kenyataannya lebih gampang untuk tertarik pada hal-hal yang menyenangkan seperti istilah “kabar baik” itu.
“Kabar baik yang saya maksud mungkin tidak sepenuhnya menjadi kabar baik buat Billy dan teman-teman di PlayForward. Akan tetapi saya merasa perlu menyampaikannya karena saya pikir ini sebuah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.”
Ayuni berucap dengan nada yang datar dan terkesan dewasa. Bahkan pengucapan nama Billy serta penggunaan kata ganti “saya” membuat pertemuan antara Billy dan Ayuni seperti pertemuan bisnis yang bersifat formal. Billy masih enggan membuka mulut untuk menimpali. Dia menunggu hal apa lagi yang hendak terucap dari bibir Ayuni.
“Yang saya maksud adalah Mas Purnama Jaya Kesuma, seorang yang bisa dibilang cukup kompeten di bidang musik, yang kebetulan saya kenal, ingin mendengarkan demo album PlayForward. Bagaimana?”
Billy semakin merasa perempuan di hadapannya semakin asing bagi dia dengan pernyataan tambahannya itu. Akhirnya dia pun angkat bicara. Lebih tepatnya mempertanyakan dengan tegas apa maksud Ayuni dengan kalimatnya itu.
“Sebentar, Mbak. Aku merasa ada yang janggal. Bahkan sangat janggal. Pertama, atas dasar apa Anda berusaha mengajukan diri untuk memperkenalkan PlayForward kepada Mas Pur whatever itu. Sedangkan Anda sendiri belum mendengar apa dan bagaimana PlayForward itu! Soal memperjuangkan demo album ke label, kami sudah lama melakukannya. Meskipun belum tembus, tetapi sekarang kami sudah bisa memutar lagu-lagu kami di beberapa radio dan kami pun sudah mempunyai basic fans yang memadai untuk setidaknya menyokong perjuangan kami. Jadi sekali lagi, saya tidak mengerti atas apa yang Anda bicarakan itu.”
Niat baik belum tentu menjadi hal yang baik. Begitu yang ada dalam pikiran Ayuni melihat reaksi Billy yang sama sekali tidak bisa dia duga lantaran tadi sepertinya Billy justru tertarik dengan tawarannya itu.
“Begini, Billy. Sebaiknya yang Billy perlu pahami bahwa niat saya memperkenalkan PlayForward dengan Mas Purnama Jaya Kesuma itu baik adanya. Saya ingin, setelah saya membaca lirik yang menarik dan entah bagaimana saya juga merasa bahwa musik PlayForward itu pasti bagus, untuk ikut berjuang dengan Billy dan teman-teman menjadikan PlayForward sebagai band yang meramaikan pasar musik di Indonesia.”
Ayuni mengatakan hal itu dengan sorot mata yang teduh tetapi terasa tajam dalam pandangan Billy. Sehingga Billy merasa apa yang diucapkan Ayuni benar-benar berasal dari dalam hatinya. Jujur, tanpa ada keinginan yang terselubung.
“Apakah dengan kata lain, Anda ingin menjadi manager bagi band kami?”
Ayuni tertawa ringan. Melihat hal itu, Billy merasa telah mengajukan pertanyaan yang bodoh untuk orang yang terlihat begitu tulus seperti Ayuni.
“Haha. Saya tidak punya niat untuk menjadi manager sebuah group band. Yang ingin saya lakukan hanyalah membantu PlayForward untuk bisa mendapatkan label yang baik. Itu saja. Soal managerial dan lain-lainnya, sebaiknya memang segera Billy dan teman-teman bicarakan.“
“Lalu, apa keuntungan hal ini untuk Anda?”
“Billy. Ini ada kaitannya dengan tanda bahaya yang aku ceritakan dalam pembicaraan via chat kita. Kau masih ingat?”
“Ya. Tentu saja aku masih ingat, dan oleh karenanya aku juga tadi mempertanyakannya, bukan?”
Ayuni menghela nafas sebentar. Dia mengambil daftar menu, membacanya sekilas, lalu melambaikan tangan ke arah pelayan. Ketika pelayan yang dilambai itu datang, Ayuni melirik ke arah Billy dan bertanya,”Billy mau pesan minum dulu?”
Billy gelapan dengan pertanyaan itu, sebab dia dari tadi hanyut dalam memperhatikan perempuan yang ada di hadapannya. Terlalu banyak misteri yang menyelubunginya. Dari penampilannya, Ayuni terlihat sebagai seorang yang cerdas, minimal berpendidikan tinggi, dan hidup berkecukupan. Terihat dari cara dia berpakaian dan berdandan.
Mengapa sepertinya dia masih perlu mencari kegiatan yang mungkin bagi sebagian orang malah terlihat aneh dan sepele? Seperti memperjuangkan sebuah band agar menjadi besar. Hal ini sepele karena tidak banyak yang tahu betapa hal seperti ini memakan energi, biaya, juga waktu yang tidak sedikit. Hal itu tampaknya tidak sesuai dengan penampilan Ayuni yang terlihat mapan dan santai ini.
“Billy?”
“Ya? Ah. Aku pesan orange juice saja!”
Setelah menutup kembali lembar daftar menu, mengatakan pesanannya kepada pelayan tadi, Ayuni kembali menatap dengan pandangan yang berbinar ke arah Billy. Sepertinya ia sudah siap untuk melepaskan sesuatu yang sudah sekian lama disimpannya sendiri.
“Billy. Kamu tentu tahu bagaimana rasanya seseorang yang telah membuat sesuatu, lalu memberikan sesuatu itu kepada orang lain, dan orang lain itu senang. Pernah bukan mengalami hal seperti itu?”
“Ya. Seperti halnya aku menyelesaikan sekolahku di SMU beberapa waktu lalu. Ayah dan Ibuku bangga karena anaknya yang terkenal tukang bolos dan pemalas ini akhirnya lulus juga,” jawab Billy.
Senyum Ayuni kembali terkembang. Geliginya yang putih mengkilat semakin membuat senyumnya menawan. Dia melipat tangan dengan anggun di atas lututnya, sebelum kembali berbincang,”Yang saya rasakan adalah di mana saya merasa sudah tuntas melakukan sesuatu hal dan saya pun mendapatkan kegembiraan tersendiri dalam melakukan hal yang menyenangkan
Billy menggeleng tidak mengerti. Dalam benaknya dia berpikir; “lantas, apa yang menjadi masalah perempuan ini?”
“Billy pernah
“Bukankah semalam Anda mengatakan nama Anda adalah
Ada pias merah jambu di pipi Ayuni. Senyumnya terpaksa ditahan, dan dia melengoskan muka ke arah jendela. Dari kaca jendela terlihat cuaca di luar begitu teriknya. Larik-larik cahaya putih matahari memanjangkan bayang-bayang pengunjung café ini hingga dinding di seberang.
“Saya suka sekali dengan legenda itu. Pramoedya pernah menuliskan dengan beberapa hal yang berbeda. Salah satunya adalah memanusiakan tokoh bernama Baruklinting. Dalam cerita rakyat Yogya-Solo, Baruklinting dikenal sebagai senjata sakti yang berasal dari lidah seekor naga. Tapi tokoh sentral dari cerita itu adalah Pembayun itu sendiri. Seorang perempuan yang beruntung! Seperti diriku.”
Agaknya Ayuni masih hendak berpanjang cerita, tetapi kedatangan pelayan café yang membawa dua gelas minuman membuatnya harus menghentikan ceritanya.
Billy yang sadar akan hal itu buru-buru mengucapkan terimakasih kepada pelayan café itu agar cepat berlalu dari hadapan mereka berdua.
“Lalu?”
Ayuni mengangkat gelas, dan meminum isinya melalui sedotan panjang yang dihiasi payung kecil warna merah. Setelah meletakkan kembali gelasnya, dia melihat ke arah jam tangannya.
“Maaf, Billy. Aku terlalu percaya diri. Aku sudah mengatur janji dengan Mas Pur agar jam 7 malam ini PlayForward bisa datang untuk memperlihatkan kemampuan di depan dia. Bagaimana?”
“Terlalu cepat, Mbak. Ini terlalu cepat!” Keluh Billy. Dia sama sekali tidak menyangka Ayuni bertindak begitu tangkas mempersiapkan jalan untuk PlayForward.
“Billy bisa hubungi teman-teman? Kita bertemu di studio Mas Pur di Jalan Rasamala. Sudah tahu bukan? Soalnya tempat itu biasa untuk kumpul-kumpul para musisi.” Ayuni sedikit membujuk.
“Aku coba hubungi teman-teman. Tetapi aku tidak berjanji bahwa kami bisa datang. Soalnya waktunya terlalu mepet.” Sekali lagi Billy mengeluh.
“Baiklah Billy. Saya terpaksa juga meninggalkanmu. Saya sudah ada janji dengan dokter kandungan saya.” Ayuni mengangkat tas miliknya dari kursi di sebelah dia duduk, lalu berdiri sambil mengulurkan tangannya ke arah Billy. Sementara Billy masih terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya di siang yang terik ini.
“Bagaimana dengan ceritamu tadi, Mbak?”
Ayuni menghela nafas panjang.
“Maafkan bila saya membuat penasaran Billy. Tetapi sekarang yang menjadi fokus kita berdua adalah temu janji PlayForward dengan Mas Pur nanti malam. Jika itu selesai, masih ada satu tugas lagi yang perlu saya lakukan terhadapmu, Billy. Sebelum saya menceritakan cerita tentang diri saya sendiri. OK?”
Ya. Ya. Ya. Whatever.
Sebenarnya Billy ingin mengatakan hal itu. Tetapi melihat ketulusan niat Ayuni membantu PlayForward, maka yang keluar dari mulutnya hanyalah dua huruf yang juga diucapkan Ayuni ketika bertanya kepadanya : OK.
0 komentar:
Poskan Komentar