Majalah Rolling Stone itu dilemparkan ke lantai. Dia merasa kesal pada kebodohannya sendiri.
“Kenapa aku tak bisa membuat lirik yang bagus seperti Sting?”
Jelas, Gordon Summer itu bukan saingan bagi anak muda yang baru menginjak kepala dua. Latar belakang Sting sebagai guru sastra di sekolah menengah membuat lirik-lirik lagu baik kelompok The Police dulu maupun sekarang saat dia solo sangatlah puitis, punya nilai lebih dibandingkan lirik-lirik lagu band top chart dalam negeri yang isinya syair cinta itu.
Dia mendengus. Entah sudah berapa hari dia mengurung diri di kamar kost tanpa latihan. Setiap kali telepon genggamnya bergetar atau berdering, dia langsung menyentuh tombol merah. Mematikannya. Jelas sekali dia sangat tidak ingin diganggu. Bahkan di kamar itu tak terdengar suara musik dari radio cassette, laptop, atau i-podnya. Dia ingin benar-benar bisa mendengar hening yang berasal dari dirinya atau sekitarnya.
Kali ini diraihnya gitar. Alat musik yang sudah diakrabinya sejak dia menginjak usia belasan tahun. Dia tahu, bahkan sangat tahu kemampuan bergitarnya tidak meningkat pesat. Maka dari itu, dia lebih memilih menjadi song writer dan vocalist dari band indie yang dibentuk bersama beberapa teman.
Hampir seminggu setelah dia berjanji hendak membuat satu komposisi lagu rock yang bisa menjadi jagoan dalam demo album mereka selain sembilan lagu yang sudah ada.
“Masterpiece-nya Bon,” ujar dia kepata Bondan, pemain keyboard.
Bondan, Teguh, Hari, dan Bimo hanya menggelengkan kepala jika dia sudah bersikeras pada sesuatu hal. Bukan sebuah rahasia bila Billy sudah ingin mencipta lagu, maka mereka hanya bisa menunggu. Paling tidak seminggu. Selama ini, mereka tidak pernah kecewa dengan keputusan itu. Mereka juga tahu Billy akan berusaha dengan sangat keras untuk bisa mewujudkan janjinya itu.
“Berapa lama?” Bimo, drummer bertanya padanya. Billy dengan senyum yang menenangkan, hanya mengerling sambil mengacungkan jari telunjuknya dengan pasti.
“Satu minggu!”
0 komentar:
Poskan Komentar